Posted by: riaulina on: October 30, 2008
MENINGITIS
I. PENGERTIAN
Meningitis adalah suatu infeksi/peradangan dari meninges, lapisan yang tipis/encer yang mengepung otak dan jaringan saraf dalam tulang punggung, disebabkan oleh bakteri, virus, riketsia, atau protozoa, yang dapat terjadi secara akut dan kronis. (Harsono, 2003 dalam Juita, 2008).
Meningitis adalah infeksi yang menular. Sama seperti flu, pengantar virus meningitis berasal dari cairan yang berasal dari tenggorokan atau hidung. Virus tersebut dapat berpindah melalui udara dan menularkan kepada orang lain yang menghirup udara tersebut. (Anonim, 2007 dalam Juita, 2008).
II. ETIOLOGI
Penyebab infeksi ini dapat diklasifikasikan atas: Penumococcus, Meningococcus, Hemophilus influenza, Staphylococcus, E.coli, Salmonella. (Japardi, 2002)
Penyebab meningitis terbagi atas beberapa golongan umur :
III. ANATOMI
Otak dan sumsum otak belakang diselimuti meningea yang melindungi struktur syaraf yang halus, membawa pembuluh darah dan dengan sekresi sejenis cairan yaitu cairan serebrospinal. Meningea terdiri dari tiga lapis, yaitu:
a. Pia meter, merupakan lapisan yang menyelipkan dirinya ke dalam celah pada otak dan sumsum tulang belakang dan sebagai akibat dari kontak yang sangat erat akan menyediakan darah untuk struktur-struktur ini.
b. Arachnoid, merupakan selaput halus yang memisahkan pia meter dan dura meter.
c. Dura meter, merupakan lapisan paling luar yang padat dan keras berasal dari jaringan ikat tebal dan kuat.
Komponen intrakaranial terdiri dari: parenkim otak, sistem pembuluh darah, dan CSF. Apabila salah satu komponen terganggu, akan mengakibatkan peningkatan tekanan intrakranial, yang akhirnya akan menurunkan fungsi neurologis.
IV. MANIFESTASI KLINIS
Keluhan pertama biasanya nyeri kepala. Rasa ini dapat menjalar ke tengkuk dan punggung. Tengkuk menjadi kaku. Kaku kuduk disebabkan oleh mengejangnya otot-otot ekstensor tengkuk. Bila hebat, terjadi opistotonus, yaitu tengkuk kaku dalam sikap kepala tertengadah dan punggung dalam sikap hiperekstensi. Kesadaran menurun. Tanda Kernig’s dan Brudzinky positif. (Harsono, 2003).
V. GEJALA KLINIS
Gejala meningitis tidak selalu sama, tergantung dari usia si penderita serta virus apa yang menyebabkannya. Gejala yang paling umum adalah demam yang tinggi, sakit kepala, pilek, mual, muntah, dan kejang. Setelah itu biasanya penderita merasa sangat lelah, leher terasa pegal dan kaku, gangguan kesadaran serta penglihatan menjadi kurang jelas dan kepekaan pada cahaya terang. Gejala ini muncul secara perlahan. Sakit kepala sering dialami pada bagian depan kepala dan tidak diredakan oleh parasetamol.
Gejala pada bayi yang terkena meningitis, biasanya menjadi sangat rewel, muncul bercak pada kulit, tangisan lebih keras dan nadanya tinggi, demam ringan, badan terasa kaku, dan terjadi gangguan kesadaran seperti tangannya membuat gerakan tidak beraturan. (Japardi, 2002).
VI. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
a. Analisa CSS dari pungsi lumbal:
Meningitis bakterial: tekanan meningkat, cairan keruh/berkabut, jumlah sel darah putih dan protein meningkat; glukosa menurun, kultur positif terhadap beberapa jenis bakteri.
Meningitis virus: tekanan bervariasi, cairan CSS biasanya jernih, sel darah putih meningkat, glukosa dan protein biasanya normal, kultur biasanya negatif, kultur virus biasanya hanya dengan prosedur khusus.
b. Glukosa serum: meningkat.
c. LDH serum: meningkat (meningitis bakteri).
d. SDP: sedikit meningkat dengan peningkatan neutrofil (infeksi bakteri).
e. Elektrolit darah: abnormal.
f. LED: meningkat.
g. Kultur darah/hidung/tenggorok/urine: dapat mengindikasikan daerah ‘pusat’ infeksi atau mengindikasikan tipe penyebab infeksi.
h. MRI/CT Scan: dapat membantu melokalisasi lesi, melihat ukuran/letak ventrikel; hematom daerah serebral, hemoragik atau tumor.
i. EEG: mungkin terlihat gelombang lambat secara fokal.
j. Ronsen dada, kepala, dan sinus: mungkin ada indikasi infeksi atau sumber infeksi intracranial.
VII. PENATALAKSANAAN
Intervensi tergantung pada mikroorganisme penyebab meningitis dan sumber infeksinya. Dosis besar antibiotik yang sesuai biasanya diresepkan untuk ± 10 hari. Penisilin dosis tinggi dan cephalosporin generasi ketiga merupakan agen yang lebih dipilih. Antibiotik diberikan secara IV; barier darah-otak mengalami inflamasi dan dosis besar antibiotik dibutuhkan untuk mencapai CSF.
Pasien harus diberikan cairan dan elektrolit yang adekuat. Selain itu, status neurologis juga harus dipantau secara teratur, bila perlu 1 jam sekali, untuk mendeteksi tanda awal peningkatan TIK dan kejang. Antikonvulsi mungkin diperlukan untuk mengatasi kejang (Black, 1997).
VIII. ASUHAN KEPERAWATAN
a. Pengkajian.
|
Aktivitas/istirahat Gejala:
Tanda: |
□ perasaan tidak enak (malaise). □ keterbatasan yang ditimbulkan oleh kondisinya. □ ataksia, masalah berjalan, kelumpuhan, gerakan involunter. Kelemahan secara umum, keterbatasan dalam rentang gerak. □ hipotonia. |
|
Sirkulasi Gejala:
Tanda: |
□ adanya riwayat kardiopatologi, seperti endokarditis, beberapa penyakit jantung. □ tekanan darah meningkat, nadi menurun, dan tekanan nadi berat (berhubungan dengan peningkatan TIK dan pengaruh pada pusat vasomotor). □ takikardia, disritmia (pada fase akut), seperti disritmia sinus.
|
|
Eliminasi Tanda: |
□ adanya inkontinensia dan/atau retensi.
|
|
Makanan/cairan Gejala:
Tanda: |
□ kehilangan napsu makan. □ kesulitan menelan (pada periode akut). □ anoreksia, muntah. □ turgor kulit jelek, membran mukosa kering. |
|
Higiene Tanda: |
□ ketergantungan terhadap semua kebutuhan perawatan diri (pada periode akut). |
|
Neurosensori Gejala:
Tanda: |
□ sakit kepala (mungkin merupakan gejala pertama dan biasanya berat). □ parestesia, terasa kaku pada semua persarafan yang terkena, kehilangan sensasi (kerusakan pada saraf kranial). Hiperalgesia/meningkatnya sensitivitas pada nyeri (meningitis). Timbul kejang. □ gangguan dalam penglihatan, seperti diplopia (fase awal dari beberapa infeksi). □ fotofobia. □ ketulian atau mungkin hipersensitif terhadap kebisingan. □ adanya halusinasi penciuman/sentuhan. □ status mental/tingkat kesadaran; letargi sampai kebingungan yang berat hingga koma, delusi dan halusinasi. □ kehilangan memori, sulit dalam mengambil keputusan. □ afasia/kesulitan dalam berkomunikasi. □ mata (ukuran/reaksi pupil); unisokor atau tidak berespons terhadap cahaya (peningkatan TIK), nistagmus (bola mata bergerak-gerak terus-menerus). □ ptosis (kelopak mata atas jatuh). Karakteristik fasial: perubahan pada fungsi motorik dan sensorik (saraf cranial V dan VII terkena). □ kejang umum atau lokal, kejang lobus temporal. Otot mengalami hipotonia/flaksid paralisis (fase akut). □ hemiparese atau hemiplegia. □ tanda Brudzinski dan/atau tanda Kernig positif merupakan indikasi adanya iritasi meningeal (fase akut). □ rigiditas nukal (iritasi meningeal). □ refleks tendon dalam: terganggu, Babinski posotif. □ refleks abdominal menurun/tidak ada; refleks kremastetik pada laki-laki menghilang. |
|
Pernapasan Gejala: Tanda: |
□ adanya riwayat infeksi sinus atau paru. □ peningkatan kerja pernapasan (episode awal). □ perubahan mental (letargi sampai koma) dan gelisah. |
|
Keamanan Gejala:
Tanda: |
□ adanya riwayat infeksi saluran napas/infeksi lain, meliputi: mastoiditis, telinga tengah, sinus, abses gigi; infeksi pelvis, abdomen atau kulit; fungsi lumbal, pembedahan, fraktur pada tengkorak/cidera kepala, anemia sel sabit. □ imunisasi yang baru saja berlangsung; terpajan pada meningitis, terpajan oleh campak, chicken-pox, herpes simpleks, mononukleus, gigitan binatang, benda asing yang terbawa. □ gangguan penglihatan/pendengaran. □ suhu meningkat, diaphoresis, menggigil. □ adanya rash, purpura menyeluruh, perdarahan subkutan. □ kelemahan secara umum; tonus otot flaksid atau spastic; paralisis atau paresis. □ gangguan sensasi. |
|
Nyeri/kenyamanan Gejala:
Tanda: |
□ sakit kepala (berdenyut dengan hebat, frontal) mungkin akan diperburuk oleh ketegangan; leher/punggung kaku; nyeri pada gerakan okular, fotosensitivitas, sakit; tenggorok nyeri. □ tampak terus terjaga, perilaku distraksi/gelisah. Menangis/mengaduh/mengeluh. |
|
Penyuluhan/pembelajaran Gejala:
Pertimbangan:
Rencana pemulangan: |
□ hipersensitif terhadap obat (meningitis non-bakteri). □ masalah medis sebelumnya, seperti penyakit kronis/gangguan umum, alkoholisme, diabetes mellitus, splenoktomi, implantasi pirau ventrikel.
Diagnosis menunjukkan rerata lama dirawat: 8,4 hari. Mungkin membutuhkan bantuan pada semua bidang, meliputi perawatan diri dan mempertahankan tugas/pekerjaan rumah.
|
Masalah keperawatan yang mungkin muncul:
· (Penyebaran) infeksi.
· Gangguan rasa nyaman (nyeri).
· Gangguan perfusi serebral.
· Trauma.
· Kerusakan mobilitas fisik.
· Perubahan pesepsi-sensori.
· Ansietas/ketakutan.
b. Diagnosis.
a. Risiko tinggi terhadap penyebaran infeksi b.d diseminata hematogen dari patogen.
Kemungkinan dibuktikan oleh:
(tidak dapat diterapkan; adanya tanda-tanda dan gejala-gejala membuat diagnosis aktual).
|
TINDAKAN/INTERVENSI |
RASIONAL |
|
Mandiri: □ Berikan tindakan isolasi sebagai tindakan pencegahan.
□ Pertahankan teknik aseptik dan teknik cuci tangan yang tepat baik pasien, pengunjung, maupun staf. Pantau dan batasi pengunjung/staf sesuai kebutuhan.
□ Pantau suhu secara teratur. Catat adanya tanda-tanda klinis dari proses infeksi.
□ Teliti adanya keluhan nyeri dada, berkembangnya nadi yang tidak teratur/disritmia atau demam yang terus-menerus.
□ Auskultasi suara napas. Pantau suara pernapasan dan usaha pernapasan.
□ Ubah posisi pasien secara teratur dan anjurkan untuk melakukan napas dalam.
□ Catat karakteristik urine: warna, kejernihan, dan bau.
□ Identifikasi kontak yang berisiko terhadap perkembangan proses infeksi serebral dan anjurkan mereka untuk meminta pengobatan. |
Pada fase awal infeksi meningitis meningokokus, isolasi mungkin diperlukan sampai organismenya diketahui/dosis antibiotik yang cocok telah diberikan untuk menurunkan risiko penyebaran pada orang lain.
Menurunkan risiko pasien terkena infeksi sekunder. Mengontrol penyebaran sumber infeksi, mencegah pemajanan pada individu terinfeksi (mis., pada individu yang mengalami infeksi saluran napas atas).
Terapi obat biasanya akan diberikan terus selama kurang dari lebih 5 hari setelah suhu turun (kembali normal) dan tanda-tanda klinisnya jelas. Timbulnya tanda klinis yang terus-menerus merupakan indikasi perkembangan dari meningokosemia akut yang dapat bertahan sampai berminggu-minggu/berbulan-bulan atau terjadi penyebaran patogen secara hematogen/sepsis.
Infeksi sekunder seperti miokarditis/perikarditis dapat berkembang dan memerlukan intervensi lanjut.
Adanya ronki/mengi, takipnea dan peningkatan kerja pernapasan mungkin mencerminkan adanya akumulasi sekret dengan risiko terjadinya komplikasi terhadap pernapasan.
Memobilisasi sekret dan meningkatkan kelancaran sekret yang akan menurunkan risiko terjadinya komplikasi terhadap pernapasan.
Urine statis, dehidrasi dan kelemahan umum meningkatkan risiko terhadap infeksi kandung kemih/ginjal/awitan sepsis.
Orang-orang dengan kontak pernapasan memerlukan terapi antibiotika profilaksis untuk mencegah penyebaran infeksi. |
|
Kolaborasi: □ Berikan terapi antibiotika IV sesuai indikasi: Penisilin G, ampisilin, kloramfenikol, gentamisin, amfoterisin.
|
Obat yang dipilih tergantung pada tipe infeksi dan sensitivitas individu. Catatan: Obat intratekal mungkin diindikasikan untuk basilus Gram-negatif, jamur, amuba. |
Kriteria evaluasi:
□ Mencapai masa penyembuhan tepat waktu, tanpa bukti penyebaran infeksi endogen atau keterlibatan orang lain.
b. Perubahan perfusi jaringan serebral b.d edema serebral yang mengubah/menghentikan aliran darah arteri/vena.
Kemungkinan dibuktikan oleh:
(tidak dapat diterapkan; adanya tanda-tanda dan gejala-gejala membuat diagnosis aktual).
|
TINDAKAN/INTERVENSI |
RASIONAL |
|
Mandiri: □ Pertahankan tirah baring dengan posisi kepala datar dan pantau tanda vital sesuai indikasi setelah dilakukan pungsi lumbal.
□ Pantau/catat status neurologis dengan teratur dan bandingkan dengan keadaan normalnya, seperti GCS.
□ Kaji adanya rigiditas nukal, gemetar, kegelisahan yang meningkat, peka rangsang dan adanya serangan kejang.
□ Pantau tanda vital, seperti tekanan darah. Catat serangan dari hipertensi sistolik yang terus menerus dan tekanan nadi yang melebar.
□ Pantau frekuensi/irama jantung.
□ Pantau pernapasan, catat pola dan irama pernapasan, seperti adanya periode apnea setelah hiperventilasi yang disebut pernapasan Cheyne-Stokes.
□ Pantau suhu dan juga atur suhu lingkungan sesuai kebutuhan. Batasi penggunaan selimut, lakukan kompres hangat jika ada demam. Tutupi ekstrimitas dengan selimut ketika selimut hipotermia digunakan.
□ Pantau masukan dan haluaran. Catat karakteristik urine, turgor kulit, dan keadaan membran mukosa.
□ Bantu pasien untuk berkemih/membatasi batuk, muntah, mengejan. Anjurkan pasien untuk mengeluarkan napas selama pergerakan/perpindahan di tempat tidur. □ Berikan tindakan yang menimbulkan rasa nyaman, seperti masase di punggung, lingkungan yang tenang, suara yang halus dan sentuhan yang lembut. □ Berikan waktu istirahat antara aktivitas perawatan dan batasi lamaya tindakan tersebut.
□ Anjurkan keluarga untuk berbicara dengan pasien jika diperlukan. |
Perubahan tekanan CSS mungkin merupakan potensi adanya risiko herniasi batang otak yang memerlukan tindakan medis dengan segera.
Pengkajian kecenderungan adanya perubahan tingkat kesadaran dan potensial peningkatan TIK adalah sangat berguna dalam menentukan lokasi, penyebaran/luasnya dan perkembangan dari kerusakan serebral. Merupakan indikasi adanya iritasi meningeal dan mungkin juga terjadi dalam periode akut atau penyembuhan dari trauma otak.
Normalnya, autoregulasi mampu mempertahankan aliran darah serebral dengan konstan sebagai dampak adanya fluktuasi pada tekanan darah sistemik. Kehilangan fungsi autoregulasi mungkin mengikuti kerusakan vaskuler serebral lokal atau difus yang menimbulkan peningkatan TIK. Fenomena ini dapat ditunjukan oleh peningkatan tekanan darah sistemik yang bersamaan dengan penurunan tekanan darah diastolik (tekanan nadi yang melebar).
Perubahan pada frekuensi (tersering adalah bradikardi) dan disritmia dapat terjadi, yang mencerminkan trauma/tekanan batang otak pada tidak adanya penyakit jantung yang mendasari. Tipe dari pola pernapasan merupakan tanda yang berat dari adanya peningkatan TIK/daerah serebral yang terkena dan mungkin merupakan indikasi perlunya untuk melakukan intubasi dengan disertai pemasangan ventilator mekanik. Demam biasanya berhubungan dengan proses inflamasi tetapi mungkin merupakan komplikasi dari kerusakan pada hipotalamus. Terjadi peningkatan kebutuhan metabolism dan konsumsi oksigen (terutama dengan menggigil), yang dapat meningkatkan TIK.
Hipertermia meningkatkan kehilangan air tak kasat mata dan meningkatkan risiko dehidrasi, terutama jika tingkat kesadaran menurun/munculnya mual menurunkan pemasukan melalui oral. Catatan: SIADH mungkin akan terjadi, yang berpotensi untuk terjadinya retensi cairan dengan terbentuknya edema dan penurunan pengeluaran urine. Aktivitas seperti ini akan meningkatkan tekanan intratorak dan intraabdomen yang dapat meningkatkan TIK. Ekshalasi selama perubahan posisi tersebut dapat mencegah pengaruh maneuver valsava.
Meningkatkan istirahat dan menurunkan stimulasi sensori yang berlebihan.
Mencegah kelelahan berlebihan. Aktivitas yang dilakukan secara terus menerus dapat meningkatkan TIK dengan menghasilkan akumulatif stimulus. Mendengarkan suara yang menyenangkan dari orang terdekat/keluarga tampaknya menimbulkan pengaruh relaksasi pada beberapa pasien dan mungkin akan dapat menurunkan TIK. |
|
Kolaborasi: □ Tinggikan kepala TT sekitar 15-45 derajat sesuai toleransi/indikasi. Jaga kepala pasien tetap berapa posisi netral. □ Berikan cairan IV dengan alat kontrol khusus. Batasi pemasukan cairan dan berikan larutan hipertonik/elektrolit sesuai indikasi.
□ Pantau gas darah arteri. Berikan terapi oksigen sesuai kebutuhan.
□ Berikan selimut hipotermi.
Berikan obat-obatan sesuai indikasi: □ Steroid; dekstametason, metilprednison (Medrol).
□ Klorpomasin (Thorazine).
□ Asetaminofen (Tylenol), baik oral maupun rektal. |
Peningkatan aliran vena dari kepala akan menurunkan TIK.
Meminimalkan fluktuasi dalam aliran vaskuler dan TIK. Restriksi cairan mungkin diperlukan untuk mengurangi cairan tubuh total dan selanjutnya akan menurunkan edema serebral terutama saat munculnya SIADH. Terjadinya asidosis dapat menghambat masuknya oksigen pada tingkat sel yang memperburuk/meningkatkan iskemia serebral. Membantu dalam mengontrol/ menstabilkan peningkatan suhu ekstrem, menurunkan kebutuhan metabolik/risiko kejang dan meningkatkan keamanan pasien.
Dapat menurunkan permeabilitas kapiler untuk membatasi pembentukan edema serebral, dapat juga menurunkan risiko terjadinya ‘fenomena rebound’ ketika menggunakan manitol.
Obat pilihan dalam mengatasi kelainan postur tubuh atau menggigil yang dapat meningkatkan TIK. Catatan: Obat ini dapat menurunkan ambang kejang atau sebagai pencetus terjadinya toksisitas dilantin.
Menurunkan metabolisme seluler/menurunkan konsumsi oksigen dan risiko kejang. |
Kriteria evaluasi:
□ mempertahankan tingkat kesadaran biasanya/membaik dan fungsi motorik/sensorik.
□ mendemonstrasikan tanda-tanda vital stabil.
□ melaporkan tak adanya/menurunkan berat sakit kepala.
□ mendemonstrasikan tak adanya perbaikan kognitif dan adanya peningkatan TIK.
c. Gangguan rasa nyaman (nyeri) b.d agen pencidera biologis, adanya proses infeksi/inflemasi, toksin dalam sirkulasi.
Kemungkinan dibuktikan oleh:
□ melaporkan sakit kepala, fotofobia, nyeri otot/sakit punggung.
□ perilaku distraksi: menangis, meringis, gelisah.
□ perilaku berlindung, memilih posisi yang khas.
□ tegangan muskuler; wajah menahan nyeri, pucat.
□ perubahan tanda-tanda vital.
|
TINDAKAN/INTERVENSI |
RASIONAL |
|
Mandiri: □ Berikan lingkungan yang tenang, ruangan agak gelap sesuai indikasi.
□ Tingkatkan tirah baring, bantulah kebutuhan perawatan diri yang penting. □ Letakkan kantung es pada kepala, pakaian dingin di atas mata.
□ Dukung untuk menemukan posisi yang nyaman, seperti kepala agak tinggi sedikit. □ Berikan latihan rentang gerak aktif/pasif secara tepat dan masase otot daerah leher/bahu.
□ Gunakan pelembab yang agak hangat pada nyeri leher/punggung jika tidak ada demam. |
Menurunkan reaksi terhadap stimulasi dari luar atau sensitivitas pada cahaya dan meningkatkan istirahat/relaksasi.
Menurunkan gerakan yang dapat meningkatkan nyeri.
Meningkatkan vasokonstriksi, penumpukan resepsi sensori yang selanjutnya akan menurunkan nyeri. Menurunkan iritasi meningeal, resultan ketidaknyamanan lebih lanjut.
Dapat membantu merelaksasikan ketegangan otot yang meningkatkan reduksi nyeri atau rasa tidak nyaman tersebut. Meningkatkan relaksasi otot dan menurunkan rasa sakit/rasa tidak nyaman. |
|
Kolaborasi: □ Berikan analgesik, seperti asetaminofen, kodein.
|
Mungkin diperlukan untuk menghilangkan nyeri yang berat. Catatan: narkotik mungkin merupakan kontraindikasi sehingga menimbulkan ketidakakuratan dalam pemeriksaan neurologis. |
Kriteria evaluasi:
□ melaporkan nyeri hilang/terkontrol.
□ menunjukkan postur rileks dan mampu tidur/istirahat dengan tepat.
REFERENSI
Anonim. (2008). Meningitis Kriptokokus. Diambil pada 4 Oktober 2008 dari http://spiritia.or.id/li/pdf/LI503.pdf
Black, J.M., dan Jacobs, E.M. (1997). Medical-Surgical Nursing Clinical Management for Continuity of Care. (5th Ed). Philadelphia: W.B. Saunders.
Doenges, M. E., Moorhouse, M. F., Geissler, A. C. (2000). Nursing care plans: Guidelines for planning and documenting patient care. Edisi 3. (I. M. Kariasa & N. M. Sumarwati, Penerjemah). Philadelphia: F. A. Davis Company. (Sumber asli diterbitkan tahun 1993).
Japardi, Iskandar. (2002). Meningitis Meningococcus. Diambil pada 4 Oktober 2008 dari USU digital library URL: http://library.usu.ac.id/download/fk/bedah-iskandar%20japardi23.pdf
Juita, Rika. (2008). Meningitis. Diambil pada 4 Oktober 2008 dari http://209.85.175.104/search?q=cache:yu2JmxThH98J:fkuii.org/tiki-download_wiki_attachment.php%3FattId%3D943%26page%3DRika%2520Juita+meningitis&hl=id&ct=clnk&cd=6&gl=id
Price, S., dan Wilson LM. (2005). Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Edisi 6. Jakarta: EGC.