Posted by: riaulina on: October 30, 2008
Ca SERVIKS
I. PENGERTIAN
Kanker serviks adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah mulut rahim sebagai akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan merusak jaringan normal di sekitarnya (FKUI, 1990; FKKP, 1997 dalam Fefendi, 2008).
II. ETIOLOGI
Penyebab kanker serviks belum jelas diketahui namun ada beberapa faktor resiko dan predisposisi yang menonjol, antara lain:
1. Umur pertama kali melakukan hubungan seksual.
Penelitian menunjukkan bahwa semakin muda wanita melakukan hubungan seksual semakin besar mendapat kanker serviks. Kawin pada usia 20 tahun dianggap masih terlalu muda.
2. Jumlah kehamilan dan partus.
Kanker serviks terbanyak dijumpai pada wanita yang sering partus. Semakin sering partus semakin besar kemungkinan resiko mendapat karsinoma serviks.
3. Jumlah perkawinan.
Wanita yang sering melakukan hubungan seksual dan berganti-ganti pasangan mempunyai faktor resiko yang besar terhadap kankers serviks ini.
4. Infeksi virus.
Infeksi virus herpes simpleks (HSV-2) dan virus papiloma atau virus kondiloma akuminata diduga sebagai faktor penyebab kanker serviks
5. Sosial Ekonomi.
Karsinoma serviks banyak dijumpai pada golongan sosial ekonomi rendah karena faktor sosial ekonomi erat kaitannya dengan gizi, imunitas dan kebersihan perseorangan. Pada golongan sosial ekonomi rendah umumnya kuantitas dan kualitas makanan kurang hal ini mempengaruhi imunitas tubuh.
6. Hygiene dan sirkumsisi.
Diduga mudah terjadinya kankers serviks dipengaruhi oleh pasangan yang belum disirkumsisi. Hal ini karena pada pria non sirkum hygiene, penis tidak terawat sehingga banyak kumpulan-kumpulan smegma (sekret sebacea).
7. Merokok dan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim).
Merokok akan merangsang terbentuknya sel kanker. Sedangkan pemakaian AKDR akan berpengaruh terhadap serviks, yaitu bermula dari adanya erosi diserviks, yang kemudian menjadi infeksi yang berupa radang yang terus menerus. Hal ini dapat sebagai pencetus terbentuknya kanker serviks.
III. KLASIFIKASI PERTUMBUHAN SEL
Mikroskopis
1. Displasia.
Displasia ringan terjadi pada sepertiga bagaian basal epidermis. Displasia berat terjadi pada dua pertiga epidermi hampir tidak dapat dibedakan dengan karsinoma insitu.
2. Stadium karsinoma insitu.
Pada karsinoma insitu perubahan sel epitel terjadi pada seluruh lapisan epidermis menjadi karsinoma sel skuamosa. Karsinoma insitu yang tumbuh didaerah ektoserviks, peralihan sel skuamosa kolumnar dan sel cadangan endoserviks.
3. Stadium karsionoma mikroinvasif.
Pada karksinoma mikroinvasif, disamping perubahan derajat pertumbuhan sel meningkat, juga sel tumor menembus membran basalis dan invasi pada stoma sejauh tidak lebih 5 mm dari membran basalis. Biasanya tumor ini asimtomatik dan hanya ditemukan pada skrining kanker.
4. Stadium karsinoma invasif.
Pada karsinoma invasif perubahan derajat pertumbuhan sel menonjol besar dan bentuk sel bervariasi. Petumbuhan invasif muncul diarea bibir posterior atau anterior serviks dan meluas ketiga jurusan yaitu forniks posterior atau anterior, parametrium dan korpus uteri.
5. Bentuk kelainan dalam pertumbuhan karsinoma serviks
Pertumbuhan eksofilik, berbentuk bunga kol, tumbuh ke arah vagina dan dapat mengisi setengah dari vagina tanpa infiltrasi kedalam vagina. Bentuk pertumbuhan ini mudah nekrosis dan perdarahan.
Pertumbuhan endofilik, biasanya lesi berbentuk ulkus dan tumbuh progesif meluas ke forniks, posterior dan anterior ke korpus uteri dan parametrium.
Pertumbuhan nodul, biasanya dijumpai pada endoserviks yang lambat laun lesi berubah bentuk menjadi ulkus.
Markroskopis
1. Stadium preklinis.
Tidak dapat dibedakan dengan servisitis kronik biasa.
2. Stadium permulaan.
Sering tampak sebagian lesi sekitar osteum externum.
3. Stadium setengah lanjut.
Telah mengenai sebagian besar atau seluruh bibir porsio.
4. Stadium lanjut
Terjadi pengrusakan dari jaringan serviks, sehingga tampaknya seperti ulkus dengan jaringan yang rapuh dan mudah berdarah.
IV. GEJALA KLINIS
1. Perdarahan. Sifatnya bisa intermenstruit atau perdarahan kontak, kadang-kadang perdarahan baru terjadi pada stadium selanjutnya. Pada jenis intraservikal perdarahan terjadi lambat. Price & Wilson, 2005 menyatakan walaupun perdarahan adalah gejala yang signifikan, perdarahan tidak selalu muncul pada saat-saat awal, sehingga kanker dapat sudah dalam keadaan lanjut pada saat didiagnosis.
2. Biasanya menyerupai air, kadang-kadang timbulnya sebelum ada perdarahan. Pada stadium lebih lanjut perdarahan dan keputihan lebih banyak disertai infeksi sehingga cairan yang keluar berbau.
3. Price & Wilson, 2005 menyatakan bersamaan dengan tumbuhnya tumor, gejala yang muncul adalah low back pain atau nyeri tungkai akibat penekanan syaraf lumbosakralis, frekuensi berkemih yang sering dan mendesak, hematuria, atau perdarahan rectum.
V. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Sitologi/Pap Smear.
Pap Smear adalah pemeriksaan usapan mulut rahim untuk melihat sel-sel mulut rahim (serviks) di bawah mikroskop (Maslim, 2007).
Keuntungan: murah dapat memeriksa bagian-bagian yang tidak terlihat.
Kelemahan: tidak dapat menentukan dengan tepat lokalisasi.
2. Schillen Test.
Epitel karsinoma serviks tidak mengandung glycogen karena tidak mengikat yodium. Kalau porsio diberi yodium maka epitel karsinoma yang normal akan berwarna coklat tua, sedang yang terkena karsinoma tidak berwarna.
3. Kolposkopi.
Kolposkopi adalah pemeriksaan untuk melihat permukaan serviks dengan memasukkan “teropong” bernama kolposkop ke dalam liang vagina. Alat ini menggunakan mikroskop berkekuatan rendah yang memperbesar permukaan seviks sampai dengan 10-40 kali dari ukuran normal. Pembesaran ini membantu mengidentifikasi daerah permukaan serviks yang menunjukkan abnormalitas (Maslim, 2007).
Keuntungan; dapat melihat jelas daerah yang bersangkutan sehingga mudah untuk melakukan biopsy.
Kelemahan: hanya dapat memeriksa daerah yang terlihat saja yaitu porsio, sedang kelainan pada skuamosa columnar junction dan intra servikal tidak terlihat.
4. Kolpomikroskopi
Melihat hapusan vagina (Pap Smear) dengan pembesaran sampai 200 kali
5. Biopsi
Jenis karsinoma dapat ditemukan atau ditentukan dengan biopsi.
6. Konisasi
Konisasi dilakukan dengan cara mengangkat jaringan yang berisi selaput lendir serviks dan epitel gepeng dan kelenjarnya. Konisasi dilakukan bila hasil sitologi meragukan dan pada serviks tidak tampak kelainan-kelainan yang jelas.
VI. KLASIFIKASI KLINIS
• Stage 0 : Ca pre invasif.
• Stage I : Ca terbatas pada serviks.
• Stage Ia : Disertai invasi dari stroma yang hanya diketahui secara histopatologis.
• Stage Ib : Semua kasus lainnya dari stage I.
• Stage II : Sudah menjalar keluar serviks tapi belum sampai kepanggul telah mengenai dinding vagina. Tapi tidak melebihi dua pertiga bagian proksimal.
• Stage III : Sudah sampai dinding panggul dan sepertiga bagian bawah vagina.
• Stage IIIB : Sudah mengenai organ-organ lain.
VII. PENATALAKSANAAN
1. Irradiasi.
• Dapat dipakai untuk semua stadium.
• Dapat dipakai untuk wanita gemuk tua dan pada medical risk.
• Tidak menyebabkan kematian seperti operasi.
Dosis: penyinaran ditujukan pada jaringan karsinoma yang terletak di serviks.
Komplikasi irradiasi:
• Kerentanan kandungan kencing.
• Diare.
• Perdarahan rektal.
• Fistula vesico atau rectovaginalis.
2. Operasi.
• Operasi Wentheim dan limfatektomi untuk stadium I dan II.
• Operasi Schauta, histerektomi vagina yang radikal.
3. Kombinasi.
• Irradiasi dan pembedahan.
Tidak dilakukan sebagai hal yang rutin, sebab radiasi menyebabkan bertambahnya vaskularisasi & odema. Sehingga tindakan operasi berikutnya dapat mengalami kesukaran dan sering menyebabkan fistula, disamping itu juga menambah penyebaran ke sistem limfe dan peredaran darah.
4. Cytostatika: Bleomycin, terapi terhadap karsinoma serviks yang radio resisten.
5% dari karsinoma serviks resisten terhadap radioterapi, dianggap resisten bila 8-10 minggu post terapi keadaan masih tetap sama.
VIII. ASUHAN KEPERAWATAN
a. Pengkajian.
|
Aktivitas/istirahat Gejala: |
□ kelemahan dan/atau keletihan □ perubahan pada pola istirahat dan jam kebiasaan tidur pada malam hari; adanya faktor-faktor yang mempengaruhi tidur mis., nyeri, ansietas, berkeringat malam. □ keterbatasan partisipasi dalam hobi, latihan. □ pekerjaan atau profesi dengan pemajanan karsinogen lingkungan, tingkat stres tinggi.
|
|
Sirkulasi Gejala: Kebiasaan: |
□ palpitasi, nyeri dada pengerahan kerja. □ perubahan pada TD. |
|
Integritas ego Gejala:
Tanda: |
□ faktor stres (keuangan, pekerjaan, perubahan peran) dan cara menangani stres (mis., merokok, minum alkohol, menunda mencari pengobatan, keyakinan religius/spiritual). □ masalah tentang perubahan dalam penampilan mis., alopesia, lesi cacat, pembedahan. □ menyangkal diagnosis, perasaan tidak berdaya, putus asa, tidak mampu, tidak bermakna, rasa bersalah, kehilangan kontrol, depresi. □ menyangkal, menarik diri, marah. |
|
Eliminasi Gejala:
Tanda: |
□ perubahan dalam pola defekasi mis., darah pada feses, nyeri pada defekasi. □ perubahan eliminasi urinarius, mis., nyeri atau rasa terbakar pada saat berkemih, hematuria, sering berkemih. □ perubahan pada bising usus, distensi abdomen. |
|
Makanan/cairan Gejala:
Tanda: |
□ kebiasaan diet buruk (mis., rendah serat, tinggi lemak, aditif, bahan pengawet). □ anoreksia, mual/muntah. □ intoleransi makanan. □ perubahan pada BB; penurunan BB hebat, kaheksia, berkurangnya massa otot. □ perubahan pada kelembaban/turgor kulit; edema. |
|
Neurosensori Gejala: |
□ pusing, sinkope. |
|
Nyeri/kenyamanan Gejala: |
□ tidak ada nyeri, atau derajat bervariasi mis., ketidaknyamanan ringan sampai nyeri berat (dihubungkan dengan proses penyakit). |
|
Pernapasan Gejala: |
□ merokok (tembakau, mariyuana, hidup dengan seseorang yang merokok). |
|
Keamanan Gejala:
Tanda: |
□ pemajanan pada kimia toksik. □ pemajanan matahari lama/berlebihan. □ demam. □ ruam kulit, ulserasi. |
|
Seksualitas Gejala:
|
□ masalah seksual mis., dampak pada hubungan, perubahan pada tingkat kepuasan. □ nuligravida lebih dari usia 30 tahun. □ multigravida, pasangan seks multiple, aktivitas seksual dini. Herpes genital. |
|
Interaksi sosial Gejala: |
□ ketidakadekuatan/kelemahan sistem pendukung. □ riwayat perkawinan (berkenaan dengan kepuasaan di rumah, dukungan, atau bantuan). □ masalah tentang fungsi/tanggung jawab peran. |
|
Penyuluhan/pembelajaran Gejala:
Pertimbangan:
Rencana pemulangan: |
□ riwayat kanker pada keluarga mis., ibu atau bibi dengan kanker serviks. □ sisi primer: penyakit primer ditemukan/didiagnosis. □ penyakit metastatic: sisi tambahan yang terlibat; bila tidak ada, riwayat alamiah dari primer akan memberikan informasi penting untuk mencari metastatik. □ riwayat pengobatan: pengobatan sebelumnya untuk tempat kanker dan pengobatan yang diberikan. Diagnosis menunjukkan rerata lama dirawat: tergantung pada sistem khusus yang terkena dan kebutuhan terapeutik. Rujuk pada sumber-sumber yang tepat. Memerlukan bantuan dalam keuangan, obat-obatan/pengobatan, perawatan kanker/alat perawatan, transportasi, belanja makanan dan persiapan, perawatan diri, mengurus rumah/tugas pemeliharaan, pengawasan untuk perawatan anak, perubahan pada fasilitas tinggal/hospice.
|
Masalah keperawatan yang mungkin muncul:
· Gangguan perfusi jaringan.
· Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan.
· Gangguan rasa nyaman (nyeri).
· Cemas.
· Risiko tinggi terhadap gangguan konsep diri.
b. Diagnosis.
a. Perubahan perfusi jaringan b.d perdarahan intraserviks.
|
TINDAKAN/INTERVENSI |
RASIONAL |
|
Mandiri: □ Pantau tanda vital; palpasi nadi perifer dan perhatikan pengisisan kapiler; kaji keluaran/karakteristik urin. Evaluasi perubahan mental.
□ Inspeksi balutan dan pembalut perineal, perhatikan warna, jumlah, bau drainase. Timbang pembalut dan bandingkan dengan berat kering, bila pasien mengalami perdarahan hebat.
□ Ubah posisi pasien dan dorong batuk sering dan latihan napas dalam.
□ Hindari posisi Fowler tinggi dan tekanan di bawah lutut atau menyilangkan kaki.
□ Bantu/instruksikan latihan kaki dan telapak dan ambulasi sesering mungkin. □ Periksa tanda Homan. Perhatikan eritema, pembengkakan ekstremitas, atau keluhan nyeri dada tiba-tiba pada dispnea. |
Indikator keadekuatan perfusi sistemik, kebutuhan cairan/darah, dan terjadinya komplikasi.
Memperkirakan pembuluh darah besar untuk sisi operasi dan/atau potensial perubahan mekanisme pembekuan meningkatkan risiko perdarahan pascaoperasi.
Mencegah stasis sekresi dan komplikasi pernapasan.
Menimbulkan stasis vena dengan meningkatkan kongesti pelvic dan pengumpulan darah dalam ekstremitas, potensial risiko pembentukan trombus.
Gerakan meningkatkan sirkulasi dan mencegah komplikasi stasis.
Mungkin indikasi terjadinya tromboflebitis/emboli paru. |
|
Kolaborasi: □ Berikan cairan IV, produk darah sesuai indikasi.
□ Pakaikan stoking antiemboli.
□ Bantu/dorong penggunaan spirometri insentif.
|
Menggantikan kehilangan darah mempertahankan volume sirkulasi dan perfusi jaringan. Membantu aliran balik vena; menurunkan stasis dan risiko trombisis. Meningkatkan ekspansi paru/meminimalkan atelektasis. |
Kriteria evaluasi:
□ Menunjukkan perfusi adekuat, sesuai dengan bukti tanda vital stabil, nadi teraba, pengisian kapiler baik, mental biasa, keluaran urin adekuat secara individual dan bebas edema, tanda pembentukan trombus.
b. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d penurunan nafsu makan.
Kemungkinan dibuktikan oleh:
□ keluhan masukan makanan tidak adekuat; perubahan sensasi pengecap, kehilangan minat pada makanan, ketidakmampuan untuk mencerna yang dirasakan/aktual.
□ BB 20% atau lebih dibawah BB ideal untuk tinggi dan bentuk tubuh, penurunan lemak subkutan/massa otot.
□ sariawan, rongga mulut terinflamasi.
□ diare dan/atau konstipasi, kram abdomen.
|
TINDAKAN/INTERVENSI |
RASIONAL |
|
Mandiri: □ Pantau masukan makanan setiap hari, biarkan pasien menyimpan buku harian tentang makanan sesuai indikasi. □ Ukur tinggi, BB, dan ketebalan lipatan kulit trisep (atau pengukuran antropometrik lain sesuai indikasi). Pastikan jumlah penurunan BB saat ini. timbang BB setiap hari atau sesuai indikasi.
□ Dorong pasien untuk makan diet tinggi kalori kaya nutrien, dengan masukan cairan adekuat. Dorong penggunaan suplemen dan makan sering/lebih sedikit yang dibagi-bagi dalam sehari.
□ Nilai diet sebelumnya dan segera setelah pengobatan mis., makanan bening, cairan dingin, krakers kering, roti panggang, minuman berkarbonat. Berikan cairan 1 jam sebelum atau 1 jam setelah makan.
□ Kontrol faktor lingkungan (mis., bau kuat/tidak sedap atau kebisingan). Hindari makanan terlalu manis, berlemak, atau pedas.
□ Ciptakan suasana makan malam yang menyenangkan, dorong pasien untuk berbagi makanan dengan keluarga/teman.
□ Dorong penggunaan teknik relaksasi, visualisasi, bimbingan imajinasi, latihan sedang sebelum makan.
□ Identifikasi pasien yang mengalami mual/muntah yang diantisipasi.
□ Dorong komunikasi terbuka mengenai masalah anoreksia.
□ Berikan antiemetic pada jadwal reguler sebelum/selama dan setelah pemberian agen antineoplastik dengan sesuai.
□ Evaluasi keefektifan antiemetik.
□ Hematest feses, sekresi lambung. |
Mengidentifikasi kekuatan/defisiensi nutrisi.
Membantu dalam identifikasi malnutrisi protein-kalori, khususnya bila BB dan pengukuran antropometrik kurang dari normal.
Kebutuhan jaringan metabolik ditingkatkan, begitu juga cairan (untuk menghilangkan produk sisa). Suplemen dapat memainkan peran penting dalam mempertahankan masukan kalori dan protein adekuat.
Keefektifan penilaian diet sangat individual dalam penghilangan mual pascaterapi. Pasien harus mencoba untuk menemukan solusi/kombinasi terbaik.
Dapat mentriger respons mual/muntah.
Membuat waktu makan lebih menyenangkan, yang dapat meningkatkan masukan.
Dapat mencegah awitan atau menurunkan beratnya mual, penurunan anoreksia, dan memungkinkan pasien meningkatkan masukan oral.
Mual/muntah psikogenik terjadi sebelum kemoterapi mulai secara umum tidak berspons terhadap obat antiemetik. Perubahan lingkungan pengobatan atau rutinitas pasien pada hari pengobatan mungkin efektif.
Sering sebagai sumber distres emosi, khususnya untuk orang terdekat yang menginginkan untuk memberi makan pasien dengan sering. Bila pasien menolak, orang terdekat dapat merasakan ditolak/frustrasi.
Mual/muntah paling menurunkan kemampuan dan efek samping psikologis kemoterapi yang menimbulkan stres.
Individu berespons secara berbeda pada semua obat-obatan. Antiemetik firstine mungkin tidak bekerja, memerlukan perubahan pada atau kombinasi terapi obat.
Terapi tertentu (mis., antimetabolit) menghambat pembaharuan lapisan sel-sel epitel saluran GI, yang dapat menyebabkan perubahan yang direntang dari eritem ringan sampai ulserasi berat dengan perdarahan. |
|
Kolaborasi: □ Tinjau ulang pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi mis., jumlah limfosit total, transferin serum, dan albumin.
Berikan obat-obatan sesuai indikasi: □ Fenotiazin mis., proklorperazin (Compazine), tietilperazin (Torecan); antidopaminergik, mis., metoklorpramid (Reglan), ondansetron (Zofran); antihistamin mis., difenhidramin (Benadryl).
□ Kortikosteroid mis., deksametazon (Decadron); kanabinoid mis., 9-tetrahidrokanabinol; benzodiazepine mis., diazepam (Valium).
□ Vitamin, khususnya A, D, E, dan B6.
□ Antasid.
□ Rujuk pada ahli diet/tim pendukung nutrisi.
□ Pasang/pertahankan selang NG atau pemberian makan untuk makanan enteral, atau jalur sentral untuk hiperalimentasi parenteral bila diindikasikan. |
Membantu mengidentifikasi derajat keidakseimbangan biokimia/malnutrisi dan mempengaruhi pilihan intervensi diet. Catatan: pengobatan anti kanker dapat juga mengubah pemeriksaan nutrisi sehingga semua hasil harus diperbaiki dengan status klinis pasien.
Kebanyakan antiemetik bekerja untuk mempengaruhi stimulasi pusat muntah sejati dan kemoreseptor mentriger agen zona juga bertindak secara perifer untuk menghambat peristaltik balik.
Terapi kombinasi (mis., Torecan dengan Decadron atau Valium) seringkali lebih efektif daripada agen tunggal.
Mencegah kekurangan karena penurunan absorpsi vitamin larut dalam lemak. Defisiensi B6 dapat memperberat/mengeksaserbasi depresi, peka rangsang. Meminimalkan iritasi lambung dan mengurangi risiko ulserasi mukosa.
Memberikan rencana diet khusus untuk memenuhi kebutuhan individu dan menurunkan masalah berkenaan dengan malnutrisi protein/kalori dan defisiensi mikronutrien.
Pada adanya malnutrisi berat (mis., kehilangan BB 25%-30% dalam 2 bulan), atau pasien telah dipuasakan selama 5 hari dan tidak mungkin untuk mampu makan selama 2 minggu, pemberian makan per selang atau NPT mungkin perlu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi. Catatan: NPT digunakan dengan kewaspadaan yang dihubungkan dengan peningkatan lebih dari 4 kali lipat pada risiko infeksi signifikan. |
Kriteria evaluasi:
□ mendemonstrasikan BB stabil, penambahan BB progresif ke arah tujuan dengan normalisasi nilai laboratorium dan bebas tanda malnutrisi.
□ pengungkapan pemahaman pengaruh individual pada masukan adekuat.
□ berpartisipasi dalam intervensi spesifik untuk merangsang napsu makan/peningkatan masukan diet.
c. Gangguan rasa nyaman (nyeri) b.d proses desakan pada jaringan intra servikal.
Kemungkinan dibuktikan oleh:
□ keluhan nyeri.
□ memfokuskan pada diri sendiri/penyempitan fokus.
□ distraksi/perilaku berhati-hati.
□ respons autonomik, gelisah.
|
TINDAKAN/INTERVENSI |
RASIONAL |
|
Mandiri: □ Tentukan riwayat nyeri, mis., lokasi nyeri, frekuensi, durasi, dan intensitas (skala 1-10), dan tindakan penghilangan yang dilakukan.
□ Evaluasi/sadari terapi tertentu mis., pembedahan, radiasi, kemoterapi, bioterapi. Ajarkan pasien/orang terdekat apa yang diharapkan.
□ Berikan tindakan kenyamanan dasar (mis., reposisi, gosokan punggung) dan aktivitas hiburan (mis., musik, televisi).
□ Dorong penggunaan keterampilan manajemen nyeri (mis., teknik relaksasi, visualisasi, bimbingan imajinasi), tertawa, musik, dan sentuhan terapeutik.
□ Evaluasi penghilangan nyeri/kontrol. Nilai aturan pengobatan bila perlu. |
Informasi memberikan data dasar untuk mengevaluasi kebutuhan/keefektifan intervensi. Catatan: pengalaman nyeri adalah individual yang digabungkan dengan baik respons fisik dan emosional.
Ketidaknyamanan rentang luas adalah umum (mis., nyeri insisi, kulit terbakar, nyeri punggung bawah, sakit kepala) tergantung pada prosedur /agen yang digunakan.
Meningkatkan relaksasi dan membantu memfokuskan kembali perhatian.
Memungkinkan pasien untuk berpartisipasi secara aktif dan meningkatkan rasa kontrol.
Tujuannya adalah kontrol nyeri maksimum dengan pengaruh minimum pada AKS. |
|
Kolaborasi: □ Kembangkan rencana manajemen nyeri dengan pasien dan dokter.
□ Berikan analgesik sesuai indikasi, mis., Brompton’s cocktail, metadon, atau campuran narkotik IV khusus. Berikan hanya untuk memberikan analgesik dalam sehari. Ubah dari analgesik kerja pendek menjadi kerja panjang bila diindikasikan.
□ Berikan/ instruksikan penggunaan PCA (analgesik yang dikontrol sendiri oleh pasien) dengan tepat.
□ Siapkan/ bantu dalam prosedur mis., blok saraf, kordotomi, mielotomi komisura. |
Rencana terorganisasi mengembangkan kesempatan untuk control nyeri. Terutama dengan nyeri kronis, pasien/orang terdekat harus aktif menjadi partisipan dalam manajemen nyeri di rumah.
Nyeri adalah komplikasi sering dari kanker, meskipun respons individual berbeda. Saat perubahan penyakit/ pengobatan terjadi, penilaian dosis dan pemberian akan diperlukan. Catatan: adiksi atau ketergantungan pada obat bukan masalah.
Analgesia dikontrol pasien sehingga pemberian obat tepat waktu, mencegah fluktuasi pada intensitas nyeri, sering pada dosis total rendah akan diberikan melalui metode konvensional.
Mungkin digunakan dalam nyeri berat yang tidak berespons pada tindakan lain. |
Kriteria evaluasi:
□ melaporkan penghilangan nyeri maksimal/kontrol dengan pengaruh minimal pada AKS.
□ mengikuti aturan farmakologis yang ditentukan.
□ mendemonstrasikan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktivitas hiburan sesuai indikasi untuk situasi individu.
REFERENSI
Doenges, M. E., Moorhouse, M. F., Geissler, A. C. (2000). Nursing care plans: Guidelines for planning and documenting patient care. Edisi 3. (I. M. Kariasa & N. M. Sumarwati, Penerjemah). Philadelphia: F. A. Davis Company. (Sumber asli diterbitkan tahun 1993)
Fefendi. (2008). Kanker Serviks. Diambil pada 20 September 2008 dari http://indonesiannursing.com/2008/07/26/kanker-serviks/
Maslim, Yunita. (2007). Deteksi Dini Kanker Serviks dengan Pap Smear dan Kolposkopi. Diambil pada 20 September 2008 dari http://www.tanyadokteranda.com/artikel/2007/06/deteksi-dini-kanker-serviks-dengan-pap-smear-dan-kolposkopi
Price, S., dan Wilson LM. (2005). Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Edisi 6. Jakarta: EGC.