Posted by: riaulina on: October 30, 2008
IKTERUS OBSTRUKTIF
I. PENGERTIAN
Ikterus adalah suatu keadaan dimana jaringan berwarna kekuning-kuningan akibat deposisi bilirubin yang terjadi bila kadar bilirubin darah mencapai 2 mg/dL. Ikterus obstruktif itu sendiri adalah ikterus yang disebabkan oleh obstruksi sekresi bilirubin yang dalam keadaan normal seharusnya dialirkan ke traktus gastrointestinal. Akibat hambatan tersebut terjadi regurgitasi bilirubin ke dalam aliran darah, sehingga terjadilah ikterus (Anonim, 2008).
Ikterus obstruktif adalah kegagalan aliran bilirubin ke duodenum, dimana kondisi ini akan menyebabkan perubahan patologi di hepatosit dan ampula vateri (Sherly, 2008). Dengan demikian, ikterus obstruktif merupakan jaundice/ kekuningan yang disebabkan oleh obstruksi yang menghalangi bilirubin mengalir ke jejunum.
II. ETIOLOGI
Sherly dkk, 2008 menyatakan ikterus obstruktif disebabkan oleh dua grup besar yaitu intrahepatik dan ekstrahepatik. Penyebab dari ikterus obstruktif intrahepatik yaitu:
1. Ikterus obstruktif yang berhubungan dengan penyakit hepatoseluler, seperti Steatohepatitis, hepatitis virus akut A, hepatitis B atau dengan ikterus dan fibrosis, sirosis dekompensata serta hepatitis karena obat.
2. Ikterus obstruktif yang berhubungan dengan duktopenia seperti sindrom Alagille’s, kolestatik familial progresif tipe 1, “non sindromic bile duct paucity”, obat-obatan hepatotoksik, reaksi penolakan kronik setelah transplantasi hati, dan stadium lanjut dari sirosis bilier primer.
Penyebab dari ikterus obstruktif ekstrahepatik dibagi dalam dua bagian yaitu:
a) Kolestasis yang berhubungan dengan kerusakan kandung empedu yaitu stadium lanjut sirosis bilier primer, dan obat-obat hepatotoksik.
b) Kolestasis yang berhubungan perubahan atau obstruksi traktus portal seperti batu duktus koledokus, striktur kandung empedu, sklerosis primer kolangitis, karsinoma pankreas, dan pankreatitis kronik.
III. PATOFISIOLOGI
Diagram metabolisme bilirubin dalam Tarigan, 2003 sebagai berikut:
|
Besi/Fe |
|
Bilirubin Indirek (tidak larut dalam air) |
|
GLOBIN |
|
|||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||
![]() |
|||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||
![]() |
![]() |
||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||
|
Bilirubin berikatan dengan albumin |
|
Melalui hati |
![]() |
|||||||||||
|
|||||||||||
![]() |
|||||||||||
|
|||||||||||
|
Melalui Duktus Biliaris |
|
Dari kandung empedu ke duodenum |
|
|||||||||||||||
|
|||||||||||||||
|
|||||||||||||||
![]() |
|||||||||||||||
![]() |
|||||||||||||||
|
|||||||||||||||
Obstruksi yang terjadi menghalangi aliran bilirubin di hati atau dari kandung empedu ke jejunum. Hal ini mengakibatkan terjadinya regurgitasi bilirubin ke dalam aliran darah, sehingga kadar bilirubin dalam darah meningkat, dan menyebabkan tanda dan gejala klinis.
IV. MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinis dari ikterus obstruktif ialah sklera berwarna kuning, kulit kekuning-kuningan, feses berwarna pekat, urin berwarna teh, pruritus, fatik, dan anoreksia (Black, 1997).
V. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
a. Peningkatan level bilirubin direk (terkonjugasi) (> 0,4 mg/ml), Normal = 0,1-0,3 mg/ml.
b. Peningkatan level bilirubin indirek (tak terkonjugasi) (> 0,8 mg/ml), Normal = 0,2-0,8 mg/ml.
c. Tidak adanya bilirubin dalam urin atau peningkatan bilirubin urin (konsentrasi tinggi dalam darah).
d. Peningkatan urobilinogen (> 4 mg/24 jam) tergantung pada kemampuan hati untuk mengabsorbsi urobilinogen dari sistem portal, Normal = 0-4 mg/hari.
e. Menurunnya urobilinogen fekal (< 40 mg/24 jam), Normal = 40-280 mg/hari, karena tidak mencapai usus.
f. Peningkatan alkalin fosfat dan level kolesterol karena tidak dapat diekskresi ke kandung empedu secara normal.
g. Pada kasus penyakit hati yang sudah parah, penurunan level kolesterol mengindikasikan ketidakmampuan hati untuk mensintesisnya.
h. Peningkatan garam empedu yang menyebabkan deposisi di kulit, sehingga menimbulkan pruritus.
i. Pemanjangan waktu PTT (Prothrombin Time) (> 40 detik) dikarenakan penurunan absorbsi vitamin K.
VI. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan ikterus obstruktif ialah dengan pembedahan membuang penyebab obstruksi. Pembedahan eksplorasi dilakukan untuk mendiagnosa apakah obstruksi disebabkan oleh batu kandung empedu atau tumor. Apabila disebabkan oleh adanya karsinoma (biasanya pada kepala pankres), ahli bedah mungkin akan membuat bypass dari kandung empedu ke jejunum (Black, 1997).
VII. ASUHAN KEPERAWATAN
a. Pengkajian.
|
Aktivitas/istirahat Gejala: Tanda: |
□ kelelahan. □ gelisah. |
|
Sirkulasi Tanda: |
□ takikardia, berkeringat. |
|
Eliminasi Gejala:
Tanda: |
□ urin berwarna teh. □ feses berwarna pekat/lempung. □ distensi abdomen. □ teraba massa pada kuadran kanan atas. |
|
Makanan/cairan Gejala:
Tanda: |
□ napsu makan menurun, tidak toleransi terhadap lemak dan makanan “pembentuk gas”; regurgitasi berulang, nyeri epigastrium, tidak dapat makan, flatus, dispepsia. □ anoreksia, mual/muntah. □ adanya penurunan BB. |
|
Keamanan Tanda: |
□ kulit kekuningan, pruritus. □ kulit kering. □ sklera kekuningan. □ demam, menggigil. □ kecenderungan perdarahan (kekurangan vit. K) |
|
Pernapasan Tanda: |
□ peningkatan frekuensi pernapasan. □ pernapasan tertekan ditandai oleh napas pendek, dangkal. |
|
Nyeri/Kenyamanan Gejala:
Tanda: |
□ Nyeri abdomen atas berat, dapat menyebar ke punggung atau bahu kanan. □ kolik epigastrium tengah sehubungan dengan makan. □ nyeri mulai tiba-tiba dan biasanya memuncak dalam 30 menit. □ Nyeri lepas, otot tegang atau kaku bila kuadran kanan atas ditekan. |
|
Penyuluhan/pembelajaran Gejala:
Rencana pemulangan: |
□ kecenderungan keluarga untuk terjadi batu empedu. □ memerlukan dukungan dalam perubahan diet/penurunan BB. |
Masalah keperawatan yang mungkin muncul:
· Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan.
· Kerusakan integritas kulit.
· Gangguan citra tubuh.
· Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi, prognosis, dan kebutuhan tindakan.
b. Diagnosis.
a. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan b.d penurunan napsu makan; gangguan pencernaan lemak sehubungan dengan obstruksi aliran empedu.
Kemungkinan dibuktikan oleh:
□ keluhan masukan makanan tidak adekuat; perubahan sensasi pengecap, kehilangan minat pada makanan, ketidakmampuan untuk mencerna yang dirasakan/aktual.
□ BB 20% atau lebih dibawah BB ideal untuk tinggi dan bentuk tubuh, penurunan lemak subkutan/massa otot.
|
TINDAKAN/INTERVENSI |
RASIONAL |
|
Mandiri: □ Kaji distensi abdomen, sering bertahak, berhati-hati, menolak bergerak.
□ Perkirakan/hitung pemasukan kalori. Jaga komentar tentang napsu makan sampai minimal.
□ Timbang sesuai indikasi.
□ Konsul tentang kesukaan/ketidaksukaan pasien, makanan yang menyebabkan distres, dan jadwal makan yang disukai.
□ Berikan suasana menyenangkan pada saat makan, hilangkan rangsangan berbau.
□ Berikan kebersihan oral sebekum makan.
□ Tawarkan minuman seduhan saat makan, bila toleran.
□ Ambulasi dan tingkatkan aktivitas sesuai toleransi.
|
Tanda non-verbal ketidaknyamanan, berhubungan dengan gagguan pencernaan, nyeri gas.
Mengidentifikasi kekurangan/kebutuhan nutrisi. Berfokus pada masalah membuat suasana negatif dan mempengaruhi masukan.
Mengawasi keefektifan rencana diet.
Melibatkan pasien dalam perencanaan, memampukan pasien memiliki rasa kontrol dan mendorong untuk makan.
Untuk meningkatkan napsu makan, dan menurunkan mual.
Mulut yang bersih meningkatkan napsu makan.
Dapat mengurangi mual dan menghilangkan gas. Catatan: mungkin dikontraindikasikan bila menyebabkan pembentukan gas/ketidaknyamanan gaster.
Membantu dalam mengeluarkan flatus, penurunan distensi abdomen. Mempengaruhi penyembuhan dan rasa sehat dan menurunkan kemungkinan masalah sekunder sehubungan dengan imobilisasi (contoh pneumonia, tromboflebitis). |
|
Kolaborasi: □ Konsul dengan ahli diet/tim pendukung nutrisi sesuai indikasi.
□ Mulai diet cair rendah lemak setelah selang NG dilepas.
□ Tambahkan diet sesuai toleransi, biasanya rendah lemak, tinggi serat, batasi makanan penghasil gas (contoh: bawang, kol, jagung) dan makanan/minuman tinggi lemak (contoh mentega, makanan gorengan, kacang).
□ Berikan garam empedu, contoh Biliron; Zanchol; asam dehidrokolik (Decholin), sesuai indikasi.
□ Awasi pemeriksaan laboratorium, contoh BUN, albumin/protein serum, kadar transverin.
□ Berikan dukungan nutrisi total sesuai kebutuhan.
|
Berguna dalam membuat kebutuhan nutrisi individual melalui rute yang paling tepat.
Pembatasan lemak menurunkan rangsangan pada kandung empedu dan nyeri sehubungan dengan tidak semua lemak dicerna dan berguna dalam mencegah kekambuhan.
Memenuhi kebutuhan nutrisi dan meminimalkan rangsangan pada kandung empedu.
Meningkatkan pencernaan dan absorbsi lemak, vitamin larut dalam lemak, kolesterol.
Memberikan informasi tentang kekurangan nutrisi/keefektifan terapi.
Makanan pilihan diperlukan tergantung pada derajat ketidakmampuan/kerusakan kandung empedu dan kebutuhan istirahat gaster yang lama. |
Kriteria evaluasi:
□ klien akan menunjukkan kemampuan mencapai BB atau mempertahankan BB individu yang tepat.
b. Kerusakan integritas kulit b.d pruritus (Black, 1997).
Kemungkinan dibuktikan oleh:
□ pruritus pada kulit.
□ gatal-gatal.
□ kulit kering.
|
TINDAKAN/INTERVENSI |
RASIONAL |
|
Mandiri: □ Anjurkan klien untuk menggunakan pakaian yang lembut dan longgar (katun).
□ Ganti linen dengan linen yang lembut secara teratur.
□ Jaga temperatur ruangan agar tetap sejuk.
□ Mandikan klien dengan air hangat-hangat kuku, hindari sabun alkalin, gunakan lotion dengan sering. |
Pakaian yang kasar merangsang gatal.
Linen yang kasar merangsang gatal.
Ruangan yang panas merangsang pengeluaran keringat dan gatal.
Mengurangi gatal, dan menjaga kelembutan kulit. |
|
Kolaborasi: □ Berikan cholestyramin.
□ Berikan antihistamin.
□ Berikan phenobarbital.
|
Membuat pelepasan garam empedu di usus halus, sehingga dapat dieksresikan.
Mengurangi/menghilangkan gatal.
Meningkatkan aliran empedu. |
Kriteria evaluasi:
□ klien dapat mengontrol gatal.
□ penurunan kulit kering.
□ penurunan jumlah luka garukan pada kulit.
c. Gangguan citra tubuh b.d kulit dan sklera yang kekuning-kuningan (Black, 1997).
Kemungkinan dibuktikan oleh:
□ klien memisahkan dirinya dari pasien lain.
□ ekspresi wajah murung.
|
TINDAKAN/INTERVENSI |
RASIONAL |
|
Mandiri: □ Yakinkan klien bahwa keadaan ini hanyalah sementara.
□ Anjurkan/ bantu personal hygiene klien.
□ Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya tentang perubahan pada tubuhnya. |
Menurunkan cemas, memberikan harapan pada klien untuk cepat sembuh.
Rasa segar dan bersih meningkatkan rasa percaya diri klien.
Ekspresi emosi membantu klien menerima keadaannya. |
Kriteria evaluasi:
□ klien akan menerima perubahan pada dirinya.
d. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi, prognosis, dan kebutuhan tindakan b.d jaundice (Black, 1997).
Kemungkinan dibuktikan oleh:
□ pertanyaan mengapa terjadi ikterus pada tubuhnya, berapa lama, dan bagaimana menghadapinya.
|
TINDAKAN/INTERVENSI |
RASIONAL |
|
Mandiri: □ Dorong klien untuk bertanya tentang keadaan dirinya, pengobatan, dan kemajuan yang dialami.
□ Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya tentang perubahan pada tubuhnya.
□ Anjurkan klien untuk menghindari makanan/minuman tinggi lemak (contoh susu segar, es krim, mentega, makanan goring, kacang polong, bawang, minuman karbonat).
□ Anjurkan istirahat pada posisi semi-Fowler setelah makan.
|
Menurunkan cemas, memberikan informasi yang tepat pada klien.
Ekspresi emosi membantu klien menerima keadaannya.
Mencegah/membatasi terulangnya serangan kandung empedu.
Meningkatkan aliran empedu dan relaksasi umum selama proses pencernaan awal. |
Kriteria evaluasi:
□ klien akan mengerti penyebab jaundice, dibuktikan dengan kemampuan klien menjelaskan tentang penyakitnya.
□ klien akan melakukan perubahan pola hidup dan berpartisipasi dalam program pengobatan.
REFERENSI
Anonim. (2008). Ikterus Obstruktif. Diambil pada 22 Juli 2008 dari http://klinikmedis.com/ikterus-obstruktif.pdf
Black, J.M., dan Jacobs, E.M. (1997). Medical-Surgical Nursing Clinical Management for Continuity of Care. (5th Ed). Philadelphia: W.B. Saunders.
Doenges, M. E., Moorhouse, M. F., Geissler, A. C. (2000). Nursing care plans: Guidelines for planning and documenting patient care. Edisi 3. (I. M. Kariasa & N. M. Sumarwati, Penerjemah). Philadelphia: F. A. Davis Company. (Sumber asli diterbitkan tahun 1993).
Sherly, dkk. (2008). Peran Biopsi Hepar Dalam Menegakkan Diagnosis Ikterus Obstruktif Ekstrahepatik. Diambil pada 25 Oktober 2008 dari http://fkunud.com/penyakitdalam.pdf
Tarigan, Mula (2003). Asuhan Keperawatan dan Aplikasi Discharge Planning pada Klien dengan Hiperbilirubinemia. Diambil pada 25 Oktober 2008 dari http://library.usu.ac.id/download/fk/hiperbilirubinemia.pdf
Posted by: riaulina on: October 30, 2008
Ca SERVIKS
I. PENGERTIAN
Kanker serviks adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah mulut rahim sebagai akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan merusak jaringan normal di sekitarnya (FKUI, 1990; FKKP, 1997 dalam Fefendi, 2008).
II. ETIOLOGI
Penyebab kanker serviks belum jelas diketahui namun ada beberapa faktor resiko dan predisposisi yang menonjol, antara lain:
1. Umur pertama kali melakukan hubungan seksual.
Penelitian menunjukkan bahwa semakin muda wanita melakukan hubungan seksual semakin besar mendapat kanker serviks. Kawin pada usia 20 tahun dianggap masih terlalu muda.
2. Jumlah kehamilan dan partus.
Kanker serviks terbanyak dijumpai pada wanita yang sering partus. Semakin sering partus semakin besar kemungkinan resiko mendapat karsinoma serviks.
3. Jumlah perkawinan.
Wanita yang sering melakukan hubungan seksual dan berganti-ganti pasangan mempunyai faktor resiko yang besar terhadap kankers serviks ini.
4. Infeksi virus.
Infeksi virus herpes simpleks (HSV-2) dan virus papiloma atau virus kondiloma akuminata diduga sebagai faktor penyebab kanker serviks
5. Sosial Ekonomi.
Karsinoma serviks banyak dijumpai pada golongan sosial ekonomi rendah karena faktor sosial ekonomi erat kaitannya dengan gizi, imunitas dan kebersihan perseorangan. Pada golongan sosial ekonomi rendah umumnya kuantitas dan kualitas makanan kurang hal ini mempengaruhi imunitas tubuh.
6. Hygiene dan sirkumsisi.
Diduga mudah terjadinya kankers serviks dipengaruhi oleh pasangan yang belum disirkumsisi. Hal ini karena pada pria non sirkum hygiene, penis tidak terawat sehingga banyak kumpulan-kumpulan smegma (sekret sebacea).
7. Merokok dan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim).
Merokok akan merangsang terbentuknya sel kanker. Sedangkan pemakaian AKDR akan berpengaruh terhadap serviks, yaitu bermula dari adanya erosi diserviks, yang kemudian menjadi infeksi yang berupa radang yang terus menerus. Hal ini dapat sebagai pencetus terbentuknya kanker serviks.
III. KLASIFIKASI PERTUMBUHAN SEL
Mikroskopis
1. Displasia.
Displasia ringan terjadi pada sepertiga bagaian basal epidermis. Displasia berat terjadi pada dua pertiga epidermi hampir tidak dapat dibedakan dengan karsinoma insitu.
2. Stadium karsinoma insitu.
Pada karsinoma insitu perubahan sel epitel terjadi pada seluruh lapisan epidermis menjadi karsinoma sel skuamosa. Karsinoma insitu yang tumbuh didaerah ektoserviks, peralihan sel skuamosa kolumnar dan sel cadangan endoserviks.
3. Stadium karsionoma mikroinvasif.
Pada karksinoma mikroinvasif, disamping perubahan derajat pertumbuhan sel meningkat, juga sel tumor menembus membran basalis dan invasi pada stoma sejauh tidak lebih 5 mm dari membran basalis. Biasanya tumor ini asimtomatik dan hanya ditemukan pada skrining kanker.
4. Stadium karsinoma invasif.
Pada karsinoma invasif perubahan derajat pertumbuhan sel menonjol besar dan bentuk sel bervariasi. Petumbuhan invasif muncul diarea bibir posterior atau anterior serviks dan meluas ketiga jurusan yaitu forniks posterior atau anterior, parametrium dan korpus uteri.
5. Bentuk kelainan dalam pertumbuhan karsinoma serviks
Pertumbuhan eksofilik, berbentuk bunga kol, tumbuh ke arah vagina dan dapat mengisi setengah dari vagina tanpa infiltrasi kedalam vagina. Bentuk pertumbuhan ini mudah nekrosis dan perdarahan.
Pertumbuhan endofilik, biasanya lesi berbentuk ulkus dan tumbuh progesif meluas ke forniks, posterior dan anterior ke korpus uteri dan parametrium.
Pertumbuhan nodul, biasanya dijumpai pada endoserviks yang lambat laun lesi berubah bentuk menjadi ulkus.
Markroskopis
1. Stadium preklinis.
Tidak dapat dibedakan dengan servisitis kronik biasa.
2. Stadium permulaan.
Sering tampak sebagian lesi sekitar osteum externum.
3. Stadium setengah lanjut.
Telah mengenai sebagian besar atau seluruh bibir porsio.
4. Stadium lanjut
Terjadi pengrusakan dari jaringan serviks, sehingga tampaknya seperti ulkus dengan jaringan yang rapuh dan mudah berdarah.
IV. GEJALA KLINIS
1. Perdarahan. Sifatnya bisa intermenstruit atau perdarahan kontak, kadang-kadang perdarahan baru terjadi pada stadium selanjutnya. Pada jenis intraservikal perdarahan terjadi lambat. Price & Wilson, 2005 menyatakan walaupun perdarahan adalah gejala yang signifikan, perdarahan tidak selalu muncul pada saat-saat awal, sehingga kanker dapat sudah dalam keadaan lanjut pada saat didiagnosis.
2. Biasanya menyerupai air, kadang-kadang timbulnya sebelum ada perdarahan. Pada stadium lebih lanjut perdarahan dan keputihan lebih banyak disertai infeksi sehingga cairan yang keluar berbau.
3. Price & Wilson, 2005 menyatakan bersamaan dengan tumbuhnya tumor, gejala yang muncul adalah low back pain atau nyeri tungkai akibat penekanan syaraf lumbosakralis, frekuensi berkemih yang sering dan mendesak, hematuria, atau perdarahan rectum.
V. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Sitologi/Pap Smear.
Pap Smear adalah pemeriksaan usapan mulut rahim untuk melihat sel-sel mulut rahim (serviks) di bawah mikroskop (Maslim, 2007).
Keuntungan: murah dapat memeriksa bagian-bagian yang tidak terlihat.
Kelemahan: tidak dapat menentukan dengan tepat lokalisasi.
2. Schillen Test.
Epitel karsinoma serviks tidak mengandung glycogen karena tidak mengikat yodium. Kalau porsio diberi yodium maka epitel karsinoma yang normal akan berwarna coklat tua, sedang yang terkena karsinoma tidak berwarna.
3. Kolposkopi.
Kolposkopi adalah pemeriksaan untuk melihat permukaan serviks dengan memasukkan “teropong” bernama kolposkop ke dalam liang vagina. Alat ini menggunakan mikroskop berkekuatan rendah yang memperbesar permukaan seviks sampai dengan 10-40 kali dari ukuran normal. Pembesaran ini membantu mengidentifikasi daerah permukaan serviks yang menunjukkan abnormalitas (Maslim, 2007).
Keuntungan; dapat melihat jelas daerah yang bersangkutan sehingga mudah untuk melakukan biopsy.
Kelemahan: hanya dapat memeriksa daerah yang terlihat saja yaitu porsio, sedang kelainan pada skuamosa columnar junction dan intra servikal tidak terlihat.
4. Kolpomikroskopi
Melihat hapusan vagina (Pap Smear) dengan pembesaran sampai 200 kali
5. Biopsi
Jenis karsinoma dapat ditemukan atau ditentukan dengan biopsi.
6. Konisasi
Konisasi dilakukan dengan cara mengangkat jaringan yang berisi selaput lendir serviks dan epitel gepeng dan kelenjarnya. Konisasi dilakukan bila hasil sitologi meragukan dan pada serviks tidak tampak kelainan-kelainan yang jelas.
VI. KLASIFIKASI KLINIS
• Stage 0 : Ca pre invasif.
• Stage I : Ca terbatas pada serviks.
• Stage Ia : Disertai invasi dari stroma yang hanya diketahui secara histopatologis.
• Stage Ib : Semua kasus lainnya dari stage I.
• Stage II : Sudah menjalar keluar serviks tapi belum sampai kepanggul telah mengenai dinding vagina. Tapi tidak melebihi dua pertiga bagian proksimal.
• Stage III : Sudah sampai dinding panggul dan sepertiga bagian bawah vagina.
• Stage IIIB : Sudah mengenai organ-organ lain.
VII. PENATALAKSANAAN
1. Irradiasi.
• Dapat dipakai untuk semua stadium.
• Dapat dipakai untuk wanita gemuk tua dan pada medical risk.
• Tidak menyebabkan kematian seperti operasi.
Dosis: penyinaran ditujukan pada jaringan karsinoma yang terletak di serviks.
Komplikasi irradiasi:
• Kerentanan kandungan kencing.
• Diare.
• Perdarahan rektal.
• Fistula vesico atau rectovaginalis.
2. Operasi.
• Operasi Wentheim dan limfatektomi untuk stadium I dan II.
• Operasi Schauta, histerektomi vagina yang radikal.
3. Kombinasi.
• Irradiasi dan pembedahan.
Tidak dilakukan sebagai hal yang rutin, sebab radiasi menyebabkan bertambahnya vaskularisasi & odema. Sehingga tindakan operasi berikutnya dapat mengalami kesukaran dan sering menyebabkan fistula, disamping itu juga menambah penyebaran ke sistem limfe dan peredaran darah.
4. Cytostatika: Bleomycin, terapi terhadap karsinoma serviks yang radio resisten.
5% dari karsinoma serviks resisten terhadap radioterapi, dianggap resisten bila 8-10 minggu post terapi keadaan masih tetap sama.
VIII. ASUHAN KEPERAWATAN
a. Pengkajian.
|
Aktivitas/istirahat Gejala: |
□ kelemahan dan/atau keletihan □ perubahan pada pola istirahat dan jam kebiasaan tidur pada malam hari; adanya faktor-faktor yang mempengaruhi tidur mis., nyeri, ansietas, berkeringat malam. □ keterbatasan partisipasi dalam hobi, latihan. □ pekerjaan atau profesi dengan pemajanan karsinogen lingkungan, tingkat stres tinggi.
|
|
Sirkulasi Gejala: Kebiasaan: |
□ palpitasi, nyeri dada pengerahan kerja. □ perubahan pada TD. |
|
Integritas ego Gejala:
Tanda: |
□ faktor stres (keuangan, pekerjaan, perubahan peran) dan cara menangani stres (mis., merokok, minum alkohol, menunda mencari pengobatan, keyakinan religius/spiritual). □ masalah tentang perubahan dalam penampilan mis., alopesia, lesi cacat, pembedahan. □ menyangkal diagnosis, perasaan tidak berdaya, putus asa, tidak mampu, tidak bermakna, rasa bersalah, kehilangan kontrol, depresi. □ menyangkal, menarik diri, marah. |
|
Eliminasi Gejala:
Tanda: |
□ perubahan dalam pola defekasi mis., darah pada feses, nyeri pada defekasi. □ perubahan eliminasi urinarius, mis., nyeri atau rasa terbakar pada saat berkemih, hematuria, sering berkemih. □ perubahan pada bising usus, distensi abdomen. |
|
Makanan/cairan Gejala:
Tanda: |
□ kebiasaan diet buruk (mis., rendah serat, tinggi lemak, aditif, bahan pengawet). □ anoreksia, mual/muntah. □ intoleransi makanan. □ perubahan pada BB; penurunan BB hebat, kaheksia, berkurangnya massa otot. □ perubahan pada kelembaban/turgor kulit; edema. |
|
Neurosensori Gejala: |
□ pusing, sinkope. |
|
Nyeri/kenyamanan Gejala: |
□ tidak ada nyeri, atau derajat bervariasi mis., ketidaknyamanan ringan sampai nyeri berat (dihubungkan dengan proses penyakit). |
|
Pernapasan Gejala: |
□ merokok (tembakau, mariyuana, hidup dengan seseorang yang merokok). |
|
Keamanan Gejala:
Tanda: |
□ pemajanan pada kimia toksik. □ pemajanan matahari lama/berlebihan. □ demam. □ ruam kulit, ulserasi. |
|
Seksualitas Gejala:
|
□ masalah seksual mis., dampak pada hubungan, perubahan pada tingkat kepuasan. □ nuligravida lebih dari usia 30 tahun. □ multigravida, pasangan seks multiple, aktivitas seksual dini. Herpes genital. |
|
Interaksi sosial Gejala: |
□ ketidakadekuatan/kelemahan sistem pendukung. □ riwayat perkawinan (berkenaan dengan kepuasaan di rumah, dukungan, atau bantuan). □ masalah tentang fungsi/tanggung jawab peran. |
|
Penyuluhan/pembelajaran Gejala:
Pertimbangan:
Rencana pemulangan: |
□ riwayat kanker pada keluarga mis., ibu atau bibi dengan kanker serviks. □ sisi primer: penyakit primer ditemukan/didiagnosis. □ penyakit metastatic: sisi tambahan yang terlibat; bila tidak ada, riwayat alamiah dari primer akan memberikan informasi penting untuk mencari metastatik. □ riwayat pengobatan: pengobatan sebelumnya untuk tempat kanker dan pengobatan yang diberikan. Diagnosis menunjukkan rerata lama dirawat: tergantung pada sistem khusus yang terkena dan kebutuhan terapeutik. Rujuk pada sumber-sumber yang tepat. Memerlukan bantuan dalam keuangan, obat-obatan/pengobatan, perawatan kanker/alat perawatan, transportasi, belanja makanan dan persiapan, perawatan diri, mengurus rumah/tugas pemeliharaan, pengawasan untuk perawatan anak, perubahan pada fasilitas tinggal/hospice.
|
Masalah keperawatan yang mungkin muncul:
· Gangguan perfusi jaringan.
· Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan.
· Gangguan rasa nyaman (nyeri).
· Cemas.
· Risiko tinggi terhadap gangguan konsep diri.
b. Diagnosis.
a. Perubahan perfusi jaringan b.d perdarahan intraserviks.
|
TINDAKAN/INTERVENSI |
RASIONAL |
|
Mandiri: □ Pantau tanda vital; palpasi nadi perifer dan perhatikan pengisisan kapiler; kaji keluaran/karakteristik urin. Evaluasi perubahan mental.
□ Inspeksi balutan dan pembalut perineal, perhatikan warna, jumlah, bau drainase. Timbang pembalut dan bandingkan dengan berat kering, bila pasien mengalami perdarahan hebat.
□ Ubah posisi pasien dan dorong batuk sering dan latihan napas dalam.
□ Hindari posisi Fowler tinggi dan tekanan di bawah lutut atau menyilangkan kaki.
□ Bantu/instruksikan latihan kaki dan telapak dan ambulasi sesering mungkin. □ Periksa tanda Homan. Perhatikan eritema, pembengkakan ekstremitas, atau keluhan nyeri dada tiba-tiba pada dispnea. |
Indikator keadekuatan perfusi sistemik, kebutuhan cairan/darah, dan terjadinya komplikasi.
Memperkirakan pembuluh darah besar untuk sisi operasi dan/atau potensial perubahan mekanisme pembekuan meningkatkan risiko perdarahan pascaoperasi.
Mencegah stasis sekresi dan komplikasi pernapasan.
Menimbulkan stasis vena dengan meningkatkan kongesti pelvic dan pengumpulan darah dalam ekstremitas, potensial risiko pembentukan trombus.
Gerakan meningkatkan sirkulasi dan mencegah komplikasi stasis.
Mungkin indikasi terjadinya tromboflebitis/emboli paru. |
|
Kolaborasi: □ Berikan cairan IV, produk darah sesuai indikasi.
□ Pakaikan stoking antiemboli.
□ Bantu/dorong penggunaan spirometri insentif.
|
Menggantikan kehilangan darah mempertahankan volume sirkulasi dan perfusi jaringan. Membantu aliran balik vena; menurunkan stasis dan risiko trombisis. Meningkatkan ekspansi paru/meminimalkan atelektasis. |
Kriteria evaluasi:
□ Menunjukkan perfusi adekuat, sesuai dengan bukti tanda vital stabil, nadi teraba, pengisian kapiler baik, mental biasa, keluaran urin adekuat secara individual dan bebas edema, tanda pembentukan trombus.
b. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d penurunan nafsu makan.
Kemungkinan dibuktikan oleh:
□ keluhan masukan makanan tidak adekuat; perubahan sensasi pengecap, kehilangan minat pada makanan, ketidakmampuan untuk mencerna yang dirasakan/aktual.
□ BB 20% atau lebih dibawah BB ideal untuk tinggi dan bentuk tubuh, penurunan lemak subkutan/massa otot.
□ sariawan, rongga mulut terinflamasi.
□ diare dan/atau konstipasi, kram abdomen.
|
TINDAKAN/INTERVENSI |
RASIONAL |
|
Mandiri: □ Pantau masukan makanan setiap hari, biarkan pasien menyimpan buku harian tentang makanan sesuai indikasi. □ Ukur tinggi, BB, dan ketebalan lipatan kulit trisep (atau pengukuran antropometrik lain sesuai indikasi). Pastikan jumlah penurunan BB saat ini. timbang BB setiap hari atau sesuai indikasi.
□ Dorong pasien untuk makan diet tinggi kalori kaya nutrien, dengan masukan cairan adekuat. Dorong penggunaan suplemen dan makan sering/lebih sedikit yang dibagi-bagi dalam sehari.
□ Nilai diet sebelumnya dan segera setelah pengobatan mis., makanan bening, cairan dingin, krakers kering, roti panggang, minuman berkarbonat. Berikan cairan 1 jam sebelum atau 1 jam setelah makan.
□ Kontrol faktor lingkungan (mis., bau kuat/tidak sedap atau kebisingan). Hindari makanan terlalu manis, berlemak, atau pedas.
□ Ciptakan suasana makan malam yang menyenangkan, dorong pasien untuk berbagi makanan dengan keluarga/teman.
□ Dorong penggunaan teknik relaksasi, visualisasi, bimbingan imajinasi, latihan sedang sebelum makan.
□ Identifikasi pasien yang mengalami mual/muntah yang diantisipasi.
□ Dorong komunikasi terbuka mengenai masalah anoreksia.
□ Berikan antiemetic pada jadwal reguler sebelum/selama dan setelah pemberian agen antineoplastik dengan sesuai.
□ Evaluasi keefektifan antiemetik.
□ Hematest feses, sekresi lambung. |
Mengidentifikasi kekuatan/defisiensi nutrisi.
Membantu dalam identifikasi malnutrisi protein-kalori, khususnya bila BB dan pengukuran antropometrik kurang dari normal.
Kebutuhan jaringan metabolik ditingkatkan, begitu juga cairan (untuk menghilangkan produk sisa). Suplemen dapat memainkan peran penting dalam mempertahankan masukan kalori dan protein adekuat.
Keefektifan penilaian diet sangat individual dalam penghilangan mual pascaterapi. Pasien harus mencoba untuk menemukan solusi/kombinasi terbaik.
Dapat mentriger respons mual/muntah.
Membuat waktu makan lebih menyenangkan, yang dapat meningkatkan masukan.
Dapat mencegah awitan atau menurunkan beratnya mual, penurunan anoreksia, dan memungkinkan pasien meningkatkan masukan oral.
Mual/muntah psikogenik terjadi sebelum kemoterapi mulai secara umum tidak berspons terhadap obat antiemetik. Perubahan lingkungan pengobatan atau rutinitas pasien pada hari pengobatan mungkin efektif.
Sering sebagai sumber distres emosi, khususnya untuk orang terdekat yang menginginkan untuk memberi makan pasien dengan sering. Bila pasien menolak, orang terdekat dapat merasakan ditolak/frustrasi.
Mual/muntah paling menurunkan kemampuan dan efek samping psikologis kemoterapi yang menimbulkan stres.
Individu berespons secara berbeda pada semua obat-obatan. Antiemetik firstine mungkin tidak bekerja, memerlukan perubahan pada atau kombinasi terapi obat.
Terapi tertentu (mis., antimetabolit) menghambat pembaharuan lapisan sel-sel epitel saluran GI, yang dapat menyebabkan perubahan yang direntang dari eritem ringan sampai ulserasi berat dengan perdarahan. |
|
Kolaborasi: □ Tinjau ulang pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi mis., jumlah limfosit total, transferin serum, dan albumin.
Berikan obat-obatan sesuai indikasi: □ Fenotiazin mis., proklorperazin (Compazine), tietilperazin (Torecan); antidopaminergik, mis., metoklorpramid (Reglan), ondansetron (Zofran); antihistamin mis., difenhidramin (Benadryl).
□ Kortikosteroid mis., deksametazon (Decadron); kanabinoid mis., 9-tetrahidrokanabinol; benzodiazepine mis., diazepam (Valium).
□ Vitamin, khususnya A, D, E, dan B6.
□ Antasid.
□ Rujuk pada ahli diet/tim pendukung nutrisi.
□ Pasang/pertahankan selang NG atau pemberian makan untuk makanan enteral, atau jalur sentral untuk hiperalimentasi parenteral bila diindikasikan. |
Membantu mengidentifikasi derajat keidakseimbangan biokimia/malnutrisi dan mempengaruhi pilihan intervensi diet. Catatan: pengobatan anti kanker dapat juga mengubah pemeriksaan nutrisi sehingga semua hasil harus diperbaiki dengan status klinis pasien.
Kebanyakan antiemetik bekerja untuk mempengaruhi stimulasi pusat muntah sejati dan kemoreseptor mentriger agen zona juga bertindak secara perifer untuk menghambat peristaltik balik.
Terapi kombinasi (mis., Torecan dengan Decadron atau Valium) seringkali lebih efektif daripada agen tunggal.
Mencegah kekurangan karena penurunan absorpsi vitamin larut dalam lemak. Defisiensi B6 dapat memperberat/mengeksaserbasi depresi, peka rangsang. Meminimalkan iritasi lambung dan mengurangi risiko ulserasi mukosa.
Memberikan rencana diet khusus untuk memenuhi kebutuhan individu dan menurunkan masalah berkenaan dengan malnutrisi protein/kalori dan defisiensi mikronutrien.
Pada adanya malnutrisi berat (mis., kehilangan BB 25%-30% dalam 2 bulan), atau pasien telah dipuasakan selama 5 hari dan tidak mungkin untuk mampu makan selama 2 minggu, pemberian makan per selang atau NPT mungkin perlu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi. Catatan: NPT digunakan dengan kewaspadaan yang dihubungkan dengan peningkatan lebih dari 4 kali lipat pada risiko infeksi signifikan. |
Kriteria evaluasi:
□ mendemonstrasikan BB stabil, penambahan BB progresif ke arah tujuan dengan normalisasi nilai laboratorium dan bebas tanda malnutrisi.
□ pengungkapan pemahaman pengaruh individual pada masukan adekuat.
□ berpartisipasi dalam intervensi spesifik untuk merangsang napsu makan/peningkatan masukan diet.
c. Gangguan rasa nyaman (nyeri) b.d proses desakan pada jaringan intra servikal.
Kemungkinan dibuktikan oleh:
□ keluhan nyeri.
□ memfokuskan pada diri sendiri/penyempitan fokus.
□ distraksi/perilaku berhati-hati.
□ respons autonomik, gelisah.
|
TINDAKAN/INTERVENSI |
RASIONAL |
|
Mandiri: □ Tentukan riwayat nyeri, mis., lokasi nyeri, frekuensi, durasi, dan intensitas (skala 1-10), dan tindakan penghilangan yang dilakukan.
□ Evaluasi/sadari terapi tertentu mis., pembedahan, radiasi, kemoterapi, bioterapi. Ajarkan pasien/orang terdekat apa yang diharapkan.
□ Berikan tindakan kenyamanan dasar (mis., reposisi, gosokan punggung) dan aktivitas hiburan (mis., musik, televisi).
□ Dorong penggunaan keterampilan manajemen nyeri (mis., teknik relaksasi, visualisasi, bimbingan imajinasi), tertawa, musik, dan sentuhan terapeutik.
□ Evaluasi penghilangan nyeri/kontrol. Nilai aturan pengobatan bila perlu. |
Informasi memberikan data dasar untuk mengevaluasi kebutuhan/keefektifan intervensi. Catatan: pengalaman nyeri adalah individual yang digabungkan dengan baik respons fisik dan emosional.
Ketidaknyamanan rentang luas adalah umum (mis., nyeri insisi, kulit terbakar, nyeri punggung bawah, sakit kepala) tergantung pada prosedur /agen yang digunakan.
Meningkatkan relaksasi dan membantu memfokuskan kembali perhatian.
Memungkinkan pasien untuk berpartisipasi secara aktif dan meningkatkan rasa kontrol.
Tujuannya adalah kontrol nyeri maksimum dengan pengaruh minimum pada AKS. |
|
Kolaborasi: □ Kembangkan rencana manajemen nyeri dengan pasien dan dokter.
□ Berikan analgesik sesuai indikasi, mis., Brompton’s cocktail, metadon, atau campuran narkotik IV khusus. Berikan hanya untuk memberikan analgesik dalam sehari. Ubah dari analgesik kerja pendek menjadi kerja panjang bila diindikasikan.
□ Berikan/ instruksikan penggunaan PCA (analgesik yang dikontrol sendiri oleh pasien) dengan tepat.
□ Siapkan/ bantu dalam prosedur mis., blok saraf, kordotomi, mielotomi komisura. |
Rencana terorganisasi mengembangkan kesempatan untuk control nyeri. Terutama dengan nyeri kronis, pasien/orang terdekat harus aktif menjadi partisipan dalam manajemen nyeri di rumah.
Nyeri adalah komplikasi sering dari kanker, meskipun respons individual berbeda. Saat perubahan penyakit/ pengobatan terjadi, penilaian dosis dan pemberian akan diperlukan. Catatan: adiksi atau ketergantungan pada obat bukan masalah.
Analgesia dikontrol pasien sehingga pemberian obat tepat waktu, mencegah fluktuasi pada intensitas nyeri, sering pada dosis total rendah akan diberikan melalui metode konvensional.
Mungkin digunakan dalam nyeri berat yang tidak berespons pada tindakan lain. |
Kriteria evaluasi:
□ melaporkan penghilangan nyeri maksimal/kontrol dengan pengaruh minimal pada AKS.
□ mengikuti aturan farmakologis yang ditentukan.
□ mendemonstrasikan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktivitas hiburan sesuai indikasi untuk situasi individu.
REFERENSI
Doenges, M. E., Moorhouse, M. F., Geissler, A. C. (2000). Nursing care plans: Guidelines for planning and documenting patient care. Edisi 3. (I. M. Kariasa & N. M. Sumarwati, Penerjemah). Philadelphia: F. A. Davis Company. (Sumber asli diterbitkan tahun 1993)
Fefendi. (2008). Kanker Serviks. Diambil pada 20 September 2008 dari http://indonesiannursing.com/2008/07/26/kanker-serviks/
Maslim, Yunita. (2007). Deteksi Dini Kanker Serviks dengan Pap Smear dan Kolposkopi. Diambil pada 20 September 2008 dari http://www.tanyadokteranda.com/artikel/2007/06/deteksi-dini-kanker-serviks-dengan-pap-smear-dan-kolposkopi
Price, S., dan Wilson LM. (2005). Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Edisi 6. Jakarta: EGC.
Posted by: riaulina on: October 30, 2008
MENINGITIS
I. PENGERTIAN
Meningitis adalah suatu infeksi/peradangan dari meninges, lapisan yang tipis/encer yang mengepung otak dan jaringan saraf dalam tulang punggung, disebabkan oleh bakteri, virus, riketsia, atau protozoa, yang dapat terjadi secara akut dan kronis. (Harsono, 2003 dalam Juita, 2008).
Meningitis adalah infeksi yang menular. Sama seperti flu, pengantar virus meningitis berasal dari cairan yang berasal dari tenggorokan atau hidung. Virus tersebut dapat berpindah melalui udara dan menularkan kepada orang lain yang menghirup udara tersebut. (Anonim, 2007 dalam Juita, 2008).
II. ETIOLOGI
Penyebab infeksi ini dapat diklasifikasikan atas: Penumococcus, Meningococcus, Hemophilus influenza, Staphylococcus, E.coli, Salmonella. (Japardi, 2002)
Penyebab meningitis terbagi atas beberapa golongan umur :
III. ANATOMI
Otak dan sumsum otak belakang diselimuti meningea yang melindungi struktur syaraf yang halus, membawa pembuluh darah dan dengan sekresi sejenis cairan yaitu cairan serebrospinal. Meningea terdiri dari tiga lapis, yaitu:
a. Pia meter, merupakan lapisan yang menyelipkan dirinya ke dalam celah pada otak dan sumsum tulang belakang dan sebagai akibat dari kontak yang sangat erat akan menyediakan darah untuk struktur-struktur ini.
b. Arachnoid, merupakan selaput halus yang memisahkan pia meter dan dura meter.
c. Dura meter, merupakan lapisan paling luar yang padat dan keras berasal dari jaringan ikat tebal dan kuat.
Komponen intrakaranial terdiri dari: parenkim otak, sistem pembuluh darah, dan CSF. Apabila salah satu komponen terganggu, akan mengakibatkan peningkatan tekanan intrakranial, yang akhirnya akan menurunkan fungsi neurologis.
IV. MANIFESTASI KLINIS
Keluhan pertama biasanya nyeri kepala. Rasa ini dapat menjalar ke tengkuk dan punggung. Tengkuk menjadi kaku. Kaku kuduk disebabkan oleh mengejangnya otot-otot ekstensor tengkuk. Bila hebat, terjadi opistotonus, yaitu tengkuk kaku dalam sikap kepala tertengadah dan punggung dalam sikap hiperekstensi. Kesadaran menurun. Tanda Kernig’s dan Brudzinky positif. (Harsono, 2003).
V. GEJALA KLINIS
Gejala meningitis tidak selalu sama, tergantung dari usia si penderita serta virus apa yang menyebabkannya. Gejala yang paling umum adalah demam yang tinggi, sakit kepala, pilek, mual, muntah, dan kejang. Setelah itu biasanya penderita merasa sangat lelah, leher terasa pegal dan kaku, gangguan kesadaran serta penglihatan menjadi kurang jelas dan kepekaan pada cahaya terang. Gejala ini muncul secara perlahan. Sakit kepala sering dialami pada bagian depan kepala dan tidak diredakan oleh parasetamol.
Gejala pada bayi yang terkena meningitis, biasanya menjadi sangat rewel, muncul bercak pada kulit, tangisan lebih keras dan nadanya tinggi, demam ringan, badan terasa kaku, dan terjadi gangguan kesadaran seperti tangannya membuat gerakan tidak beraturan. (Japardi, 2002).
VI. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
a. Analisa CSS dari pungsi lumbal:
Meningitis bakterial: tekanan meningkat, cairan keruh/berkabut, jumlah sel darah putih dan protein meningkat; glukosa menurun, kultur positif terhadap beberapa jenis bakteri.
Meningitis virus: tekanan bervariasi, cairan CSS biasanya jernih, sel darah putih meningkat, glukosa dan protein biasanya normal, kultur biasanya negatif, kultur virus biasanya hanya dengan prosedur khusus.
b. Glukosa serum: meningkat.
c. LDH serum: meningkat (meningitis bakteri).
d. SDP: sedikit meningkat dengan peningkatan neutrofil (infeksi bakteri).
e. Elektrolit darah: abnormal.
f. LED: meningkat.
g. Kultur darah/hidung/tenggorok/urine: dapat mengindikasikan daerah ‘pusat’ infeksi atau mengindikasikan tipe penyebab infeksi.
h. MRI/CT Scan: dapat membantu melokalisasi lesi, melihat ukuran/letak ventrikel; hematom daerah serebral, hemoragik atau tumor.
i. EEG: mungkin terlihat gelombang lambat secara fokal.
j. Ronsen dada, kepala, dan sinus: mungkin ada indikasi infeksi atau sumber infeksi intracranial.
VII. PENATALAKSANAAN
Intervensi tergantung pada mikroorganisme penyebab meningitis dan sumber infeksinya. Dosis besar antibiotik yang sesuai biasanya diresepkan untuk ± 10 hari. Penisilin dosis tinggi dan cephalosporin generasi ketiga merupakan agen yang lebih dipilih. Antibiotik diberikan secara IV; barier darah-otak mengalami inflamasi dan dosis besar antibiotik dibutuhkan untuk mencapai CSF.
Pasien harus diberikan cairan dan elektrolit yang adekuat. Selain itu, status neurologis juga harus dipantau secara teratur, bila perlu 1 jam sekali, untuk mendeteksi tanda awal peningkatan TIK dan kejang. Antikonvulsi mungkin diperlukan untuk mengatasi kejang (Black, 1997).
VIII. ASUHAN KEPERAWATAN
a. Pengkajian.
|
Aktivitas/istirahat Gejala:
Tanda: |
□ perasaan tidak enak (malaise). □ keterbatasan yang ditimbulkan oleh kondisinya. □ ataksia, masalah berjalan, kelumpuhan, gerakan involunter. Kelemahan secara umum, keterbatasan dalam rentang gerak. □ hipotonia. |
|
Sirkulasi Gejala:
Tanda: |
□ adanya riwayat kardiopatologi, seperti endokarditis, beberapa penyakit jantung. □ tekanan darah meningkat, nadi menurun, dan tekanan nadi berat (berhubungan dengan peningkatan TIK dan pengaruh pada pusat vasomotor). □ takikardia, disritmia (pada fase akut), seperti disritmia sinus.
|
|
Eliminasi Tanda: |
□ adanya inkontinensia dan/atau retensi.
|
|
Makanan/cairan Gejala:
Tanda: |
□ kehilangan napsu makan. □ kesulitan menelan (pada periode akut). □ anoreksia, muntah. □ turgor kulit jelek, membran mukosa kering. |
|
Higiene Tanda: |
□ ketergantungan terhadap semua kebutuhan perawatan diri (pada periode akut). |
|
Neurosensori Gejala:
Tanda: |
□ sakit kepala (mungkin merupakan gejala pertama dan biasanya berat). □ parestesia, terasa kaku pada semua persarafan yang terkena, kehilangan sensasi (kerusakan pada saraf kranial). Hiperalgesia/meningkatnya sensitivitas pada nyeri (meningitis). Timbul kejang. □ gangguan dalam penglihatan, seperti diplopia (fase awal dari beberapa infeksi). □ fotofobia. □ ketulian atau mungkin hipersensitif terhadap kebisingan. □ adanya halusinasi penciuman/sentuhan. □ status mental/tingkat kesadaran; letargi sampai kebingungan yang berat hingga koma, delusi dan halusinasi. □ kehilangan memori, sulit dalam mengambil keputusan. □ afasia/kesulitan dalam berkomunikasi. □ mata (ukuran/reaksi pupil); unisokor atau tidak berespons terhadap cahaya (peningkatan TIK), nistagmus (bola mata bergerak-gerak terus-menerus). □ ptosis (kelopak mata atas jatuh). Karakteristik fasial: perubahan pada fungsi motorik dan sensorik (saraf cranial V dan VII terkena). □ kejang umum atau lokal, kejang lobus temporal. Otot mengalami hipotonia/flaksid paralisis (fase akut). □ hemiparese atau hemiplegia. □ tanda Brudzinski dan/atau tanda Kernig positif merupakan indikasi adanya iritasi meningeal (fase akut). □ rigiditas nukal (iritasi meningeal). □ refleks tendon dalam: terganggu, Babinski posotif. □ refleks abdominal menurun/tidak ada; refleks kremastetik pada laki-laki menghilang. |
|
Pernapasan Gejala: Tanda: |
□ adanya riwayat infeksi sinus atau paru. □ peningkatan kerja pernapasan (episode awal). □ perubahan mental (letargi sampai koma) dan gelisah. |
|
Keamanan Gejala:
Tanda: |
□ adanya riwayat infeksi saluran napas/infeksi lain, meliputi: mastoiditis, telinga tengah, sinus, abses gigi; infeksi pelvis, abdomen atau kulit; fungsi lumbal, pembedahan, fraktur pada tengkorak/cidera kepala, anemia sel sabit. □ imunisasi yang baru saja berlangsung; terpajan pada meningitis, terpajan oleh campak, chicken-pox, herpes simpleks, mononukleus, gigitan binatang, benda asing yang terbawa. □ gangguan penglihatan/pendengaran. □ suhu meningkat, diaphoresis, menggigil. □ adanya rash, purpura menyeluruh, perdarahan subkutan. □ kelemahan secara umum; tonus otot flaksid atau spastic; paralisis atau paresis. □ gangguan sensasi. |
|
Nyeri/kenyamanan Gejala:
Tanda: |
□ sakit kepala (berdenyut dengan hebat, frontal) mungkin akan diperburuk oleh ketegangan; leher/punggung kaku; nyeri pada gerakan okular, fotosensitivitas, sakit; tenggorok nyeri. □ tampak terus terjaga, perilaku distraksi/gelisah. Menangis/mengaduh/mengeluh. |
|
Penyuluhan/pembelajaran Gejala:
Pertimbangan:
Rencana pemulangan: |
□ hipersensitif terhadap obat (meningitis non-bakteri). □ masalah medis sebelumnya, seperti penyakit kronis/gangguan umum, alkoholisme, diabetes mellitus, splenoktomi, implantasi pirau ventrikel.
Diagnosis menunjukkan rerata lama dirawat: 8,4 hari. Mungkin membutuhkan bantuan pada semua bidang, meliputi perawatan diri dan mempertahankan tugas/pekerjaan rumah.
|
Masalah keperawatan yang mungkin muncul:
· (Penyebaran) infeksi.
· Gangguan rasa nyaman (nyeri).
· Gangguan perfusi serebral.
· Trauma.
· Kerusakan mobilitas fisik.
· Perubahan pesepsi-sensori.
· Ansietas/ketakutan.
b. Diagnosis.
a. Risiko tinggi terhadap penyebaran infeksi b.d diseminata hematogen dari patogen.
Kemungkinan dibuktikan oleh:
(tidak dapat diterapkan; adanya tanda-tanda dan gejala-gejala membuat diagnosis aktual).
|
TINDAKAN/INTERVENSI |
RASIONAL |
|
Mandiri: □ Berikan tindakan isolasi sebagai tindakan pencegahan.
□ Pertahankan teknik aseptik dan teknik cuci tangan yang tepat baik pasien, pengunjung, maupun staf. Pantau dan batasi pengunjung/staf sesuai kebutuhan.
□ Pantau suhu secara teratur. Catat adanya tanda-tanda klinis dari proses infeksi.
□ Teliti adanya keluhan nyeri dada, berkembangnya nadi yang tidak teratur/disritmia atau demam yang terus-menerus.
□ Auskultasi suara napas. Pantau suara pernapasan dan usaha pernapasan.
□ Ubah posisi pasien secara teratur dan anjurkan untuk melakukan napas dalam.
□ Catat karakteristik urine: warna, kejernihan, dan bau.
□ Identifikasi kontak yang berisiko terhadap perkembangan proses infeksi serebral dan anjurkan mereka untuk meminta pengobatan. |
Pada fase awal infeksi meningitis meningokokus, isolasi mungkin diperlukan sampai organismenya diketahui/dosis antibiotik yang cocok telah diberikan untuk menurunkan risiko penyebaran pada orang lain.
Menurunkan risiko pasien terkena infeksi sekunder. Mengontrol penyebaran sumber infeksi, mencegah pemajanan pada individu terinfeksi (mis., pada individu yang mengalami infeksi saluran napas atas).
Terapi obat biasanya akan diberikan terus selama kurang dari lebih 5 hari setelah suhu turun (kembali normal) dan tanda-tanda klinisnya jelas. Timbulnya tanda klinis yang terus-menerus merupakan indikasi perkembangan dari meningokosemia akut yang dapat bertahan sampai berminggu-minggu/berbulan-bulan atau terjadi penyebaran patogen secara hematogen/sepsis.
Infeksi sekunder seperti miokarditis/perikarditis dapat berkembang dan memerlukan intervensi lanjut.
Adanya ronki/mengi, takipnea dan peningkatan kerja pernapasan mungkin mencerminkan adanya akumulasi sekret dengan risiko terjadinya komplikasi terhadap pernapasan.
Memobilisasi sekret dan meningkatkan kelancaran sekret yang akan menurunkan risiko terjadinya komplikasi terhadap pernapasan.
Urine statis, dehidrasi dan kelemahan umum meningkatkan risiko terhadap infeksi kandung kemih/ginjal/awitan sepsis.
Orang-orang dengan kontak pernapasan memerlukan terapi antibiotika profilaksis untuk mencegah penyebaran infeksi. |
|
Kolaborasi: □ Berikan terapi antibiotika IV sesuai indikasi: Penisilin G, ampisilin, kloramfenikol, gentamisin, amfoterisin.
|
Obat yang dipilih tergantung pada tipe infeksi dan sensitivitas individu. Catatan: Obat intratekal mungkin diindikasikan untuk basilus Gram-negatif, jamur, amuba. |
Kriteria evaluasi:
□ Mencapai masa penyembuhan tepat waktu, tanpa bukti penyebaran infeksi endogen atau keterlibatan orang lain.
b. Perubahan perfusi jaringan serebral b.d edema serebral yang mengubah/menghentikan aliran darah arteri/vena.
Kemungkinan dibuktikan oleh:
(tidak dapat diterapkan; adanya tanda-tanda dan gejala-gejala membuat diagnosis aktual).
|
TINDAKAN/INTERVENSI |
RASIONAL |
|
Mandiri: □ Pertahankan tirah baring dengan posisi kepala datar dan pantau tanda vital sesuai indikasi setelah dilakukan pungsi lumbal.
□ Pantau/catat status neurologis dengan teratur dan bandingkan dengan keadaan normalnya, seperti GCS.
□ Kaji adanya rigiditas nukal, gemetar, kegelisahan yang meningkat, peka rangsang dan adanya serangan kejang.
□ Pantau tanda vital, seperti tekanan darah. Catat serangan dari hipertensi sistolik yang terus menerus dan tekanan nadi yang melebar.
□ Pantau frekuensi/irama jantung.
□ Pantau pernapasan, catat pola dan irama pernapasan, seperti adanya periode apnea setelah hiperventilasi yang disebut pernapasan Cheyne-Stokes.
□ Pantau suhu dan juga atur suhu lingkungan sesuai kebutuhan. Batasi penggunaan selimut, lakukan kompres hangat jika ada demam. Tutupi ekstrimitas dengan selimut ketika selimut hipotermia digunakan.
□ Pantau masukan dan haluaran. Catat karakteristik urine, turgor kulit, dan keadaan membran mukosa.
□ Bantu pasien untuk berkemih/membatasi batuk, muntah, mengejan. Anjurkan pasien untuk mengeluarkan napas selama pergerakan/perpindahan di tempat tidur. □ Berikan tindakan yang menimbulkan rasa nyaman, seperti masase di punggung, lingkungan yang tenang, suara yang halus dan sentuhan yang lembut. □ Berikan waktu istirahat antara aktivitas perawatan dan batasi lamaya tindakan tersebut.
□ Anjurkan keluarga untuk berbicara dengan pasien jika diperlukan. |
Perubahan tekanan CSS mungkin merupakan potensi adanya risiko herniasi batang otak yang memerlukan tindakan medis dengan segera.
Pengkajian kecenderungan adanya perubahan tingkat kesadaran dan potensial peningkatan TIK adalah sangat berguna dalam menentukan lokasi, penyebaran/luasnya dan perkembangan dari kerusakan serebral. Merupakan indikasi adanya iritasi meningeal dan mungkin juga terjadi dalam periode akut atau penyembuhan dari trauma otak.
Normalnya, autoregulasi mampu mempertahankan aliran darah serebral dengan konstan sebagai dampak adanya fluktuasi pada tekanan darah sistemik. Kehilangan fungsi autoregulasi mungkin mengikuti kerusakan vaskuler serebral lokal atau difus yang menimbulkan peningkatan TIK. Fenomena ini dapat ditunjukan oleh peningkatan tekanan darah sistemik yang bersamaan dengan penurunan tekanan darah diastolik (tekanan nadi yang melebar).
Perubahan pada frekuensi (tersering adalah bradikardi) dan disritmia dapat terjadi, yang mencerminkan trauma/tekanan batang otak pada tidak adanya penyakit jantung yang mendasari. Tipe dari pola pernapasan merupakan tanda yang berat dari adanya peningkatan TIK/daerah serebral yang terkena dan mungkin merupakan indikasi perlunya untuk melakukan intubasi dengan disertai pemasangan ventilator mekanik. Demam biasanya berhubungan dengan proses inflamasi tetapi mungkin merupakan komplikasi dari kerusakan pada hipotalamus. Terjadi peningkatan kebutuhan metabolism dan konsumsi oksigen (terutama dengan menggigil), yang dapat meningkatkan TIK.
Hipertermia meningkatkan kehilangan air tak kasat mata dan meningkatkan risiko dehidrasi, terutama jika tingkat kesadaran menurun/munculnya mual menurunkan pemasukan melalui oral. Catatan: SIADH mungkin akan terjadi, yang berpotensi untuk terjadinya retensi cairan dengan terbentuknya edema dan penurunan pengeluaran urine. Aktivitas seperti ini akan meningkatkan tekanan intratorak dan intraabdomen yang dapat meningkatkan TIK. Ekshalasi selama perubahan posisi tersebut dapat mencegah pengaruh maneuver valsava.
Meningkatkan istirahat dan menurunkan stimulasi sensori yang berlebihan.
Mencegah kelelahan berlebihan. Aktivitas yang dilakukan secara terus menerus dapat meningkatkan TIK dengan menghasilkan akumulatif stimulus. Mendengarkan suara yang menyenangkan dari orang terdekat/keluarga tampaknya menimbulkan pengaruh relaksasi pada beberapa pasien dan mungkin akan dapat menurunkan TIK. |
|
Kolaborasi: □ Tinggikan kepala TT sekitar 15-45 derajat sesuai toleransi/indikasi. Jaga kepala pasien tetap berapa posisi netral. □ Berikan cairan IV dengan alat kontrol khusus. Batasi pemasukan cairan dan berikan larutan hipertonik/elektrolit sesuai indikasi.
□ Pantau gas darah arteri. Berikan terapi oksigen sesuai kebutuhan.
□ Berikan selimut hipotermi.
Berikan obat-obatan sesuai indikasi: □ Steroid; dekstametason, metilprednison (Medrol).
□ Klorpomasin (Thorazine).
□ Asetaminofen (Tylenol), baik oral maupun rektal. |
Peningkatan aliran vena dari kepala akan menurunkan TIK.
Meminimalkan fluktuasi dalam aliran vaskuler dan TIK. Restriksi cairan mungkin diperlukan untuk mengurangi cairan tubuh total dan selanjutnya akan menurunkan edema serebral terutama saat munculnya SIADH. Terjadinya asidosis dapat menghambat masuknya oksigen pada tingkat sel yang memperburuk/meningkatkan iskemia serebral. Membantu dalam mengontrol/ menstabilkan peningkatan suhu ekstrem, menurunkan kebutuhan metabolik/risiko kejang dan meningkatkan keamanan pasien.
Dapat menurunkan permeabilitas kapiler untuk membatasi pembentukan edema serebral, dapat juga menurunkan risiko terjadinya ‘fenomena rebound’ ketika menggunakan manitol.
Obat pilihan dalam mengatasi kelainan postur tubuh atau menggigil yang dapat meningkatkan TIK. Catatan: Obat ini dapat menurunkan ambang kejang atau sebagai pencetus terjadinya toksisitas dilantin.
Menurunkan metabolisme seluler/menurunkan konsumsi oksigen dan risiko kejang. |
Kriteria evaluasi:
□ mempertahankan tingkat kesadaran biasanya/membaik dan fungsi motorik/sensorik.
□ mendemonstrasikan tanda-tanda vital stabil.
□ melaporkan tak adanya/menurunkan berat sakit kepala.
□ mendemonstrasikan tak adanya perbaikan kognitif dan adanya peningkatan TIK.
c. Gangguan rasa nyaman (nyeri) b.d agen pencidera biologis, adanya proses infeksi/inflemasi, toksin dalam sirkulasi.
Kemungkinan dibuktikan oleh:
□ melaporkan sakit kepala, fotofobia, nyeri otot/sakit punggung.
□ perilaku distraksi: menangis, meringis, gelisah.
□ perilaku berlindung, memilih posisi yang khas.
□ tegangan muskuler; wajah menahan nyeri, pucat.
□ perubahan tanda-tanda vital.
|
TINDAKAN/INTERVENSI |
RASIONAL |
|
Mandiri: □ Berikan lingkungan yang tenang, ruangan agak gelap sesuai indikasi.
□ Tingkatkan tirah baring, bantulah kebutuhan perawatan diri yang penting. □ Letakkan kantung es pada kepala, pakaian dingin di atas mata.
□ Dukung untuk menemukan posisi yang nyaman, seperti kepala agak tinggi sedikit. □ Berikan latihan rentang gerak aktif/pasif secara tepat dan masase otot daerah leher/bahu.
□ Gunakan pelembab yang agak hangat pada nyeri leher/punggung jika tidak ada demam. |
Menurunkan reaksi terhadap stimulasi dari luar atau sensitivitas pada cahaya dan meningkatkan istirahat/relaksasi.
Menurunkan gerakan yang dapat meningkatkan nyeri.
Meningkatkan vasokonstriksi, penumpukan resepsi sensori yang selanjutnya akan menurunkan nyeri. Menurunkan iritasi meningeal, resultan ketidaknyamanan lebih lanjut.
Dapat membantu merelaksasikan ketegangan otot yang meningkatkan reduksi nyeri atau rasa tidak nyaman tersebut. Meningkatkan relaksasi otot dan menurunkan rasa sakit/rasa tidak nyaman. |
|
Kolaborasi: □ Berikan analgesik, seperti asetaminofen, kodein.
|
Mungkin diperlukan untuk menghilangkan nyeri yang berat. Catatan: narkotik mungkin merupakan kontraindikasi sehingga menimbulkan ketidakakuratan dalam pemeriksaan neurologis. |
Kriteria evaluasi:
□ melaporkan nyeri hilang/terkontrol.
□ menunjukkan postur rileks dan mampu tidur/istirahat dengan tepat.
REFERENSI
Anonim. (2008). Meningitis Kriptokokus. Diambil pada 4 Oktober 2008 dari http://spiritia.or.id/li/pdf/LI503.pdf
Black, J.M., dan Jacobs, E.M. (1997). Medical-Surgical Nursing Clinical Management for Continuity of Care. (5th Ed). Philadelphia: W.B. Saunders.
Doenges, M. E., Moorhouse, M. F., Geissler, A. C. (2000). Nursing care plans: Guidelines for planning and documenting patient care. Edisi 3. (I. M. Kariasa & N. M. Sumarwati, Penerjemah). Philadelphia: F. A. Davis Company. (Sumber asli diterbitkan tahun 1993).
Japardi, Iskandar. (2002). Meningitis Meningococcus. Diambil pada 4 Oktober 2008 dari USU digital library URL: http://library.usu.ac.id/download/fk/bedah-iskandar%20japardi23.pdf
Juita, Rika. (2008). Meningitis. Diambil pada 4 Oktober 2008 dari http://209.85.175.104/search?q=cache:yu2JmxThH98J:fkuii.org/tiki-download_wiki_attachment.php%3FattId%3D943%26page%3DRika%2520Juita+meningitis&hl=id&ct=clnk&cd=6&gl=id
Price, S., dan Wilson LM. (2005). Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Edisi 6. Jakarta: EGC.